JAKARTA – Para penggemar film di berbagai negara menunggu perilisan The Odyssey karya Christopher Nolan dengan ekspektasi tinggi.
Namun, perhatian juga tertuju pada respons masyarakat Yunani sebagai pemilik warisan budaya yang melahirkan kisah legendaris karya Homer.
Berbeda dengan perdebatan internasional, banyak warga Yunani justru tidak terpaku pada tingkat kesetiaan film terhadap naskah asli.
Mengutip laporan The Independent, Rabu (29/7/2026), bagi mereka, kekuatan The Odyssey terletak pada kemampuannya terus ditafsirkan ulang selama hampir tiga milenium.
Pandangan itu lahir karena epos Homer telah lama menjadi bagian dari pendidikan dan kehidupan masyarakat Yunani.
Di sekolah-sekolah, The Odyssey dipelajari seluruh siswa kelas tujuh sebagai salah satu karya sastra paling penting.
Guru sastra Filippos Mantzaris menilai setiap adaptasi merupakan karya baru yang memiliki sudut pandang berbeda.
“Apa yang ingin kami pahami kepada anak-anak adalah bahwa setiap karya baru memang merupakan sebuah ciptaan baru,” kata Filippos Mantzaris, guru yang mengajarkan The Odyssey kepada siswa kelas tujuh.
Film tersebut mengikuti perjalanan Raja Odysseus yang diperankan Matt Damon saat berusaha pulang usai Perang Troya.
Dalam perjalanan, Odysseus menghadapi para dewa, monster, serta berbagai ujian sebelum kembali ke kerajaannya.
Di ruang kelas, kisah itu menjadi bahan diskusi mengenai kepemimpinan, moralitas, kecerdikan, hingga makna balas dendam.
Para siswa juga diajak membayangkan keputusan yang akan mereka ambil apabila berada di posisi sang pahlawan.
Pendekatan itu membuat cerita klasik terasa dekat dengan kehidupan generasi muda masa kini.
“Ini adalah karya sastra yang luar biasa, yang membuat anak-anak dapat melihat diri mereka dalam sosok Odysseus, sekaligus mengenali tanah air mereka sendiri,” ujar Mantzaris.
Salah seorang murid berusia 12 tahun, Kyriakos Agapiou, mengaku memperoleh pelajaran berharga dari kisah tersebut.
“Bahwa segala sesuatu itu mungkin terjadi dan kita tidak boleh pernah menyerah.”
Nilai serupa juga diterapkan banyak keluarga Yunani dalam mendidik anak-anak mereka.
Ilmuwan pertanian Nikos Varelas bahkan mengenalkan kisah Homer kepada putranya sejak usia empat tahun.
Mereka membaca versi anak-anak The Iliad dan The Odyssey sebelum menonton adaptasi panggungnya.
“Itu adalah kewajiban kami sebagai orang tua, sebagai orang Yunani,” kata Varelas.
Menurut aktor Manos Pintzis, pertunjukan teater membuat mitologi Yunani lebih mudah dipahami anak-anak.
Ia menilai pengalaman visual jauh lebih efektif dibanding sekadar meminta anak membaca buku.
“Anda tidak bisa mengatakan kepada seorang anak, ‘Baca saja cerita ini karena memang harus,’ karena anak akan menolak jika sesuatu dipaksakan kepada mereka,” ujar Pintzis.
“Namun ketika mereka melihat semuanya berlangsung langsung di depan mata, itu menjadi langkah penting dalam proses belajar sehingga mereka mau mempelajari materi yang memang harus mereka pelajari.”
Di luar Yunani, perhatian publik justru banyak tersita pada pemilihan pemain oleh Christopher Nolan.
Elon Musk mengkritik keputusan menunjuk Lupita Nyong’o sebagai Helen of Troy meski belum menyaksikan film tersebut.
Sejumlah komentator konservatif Amerika juga menilai film itu terlalu dipengaruhi isu politik identitas.
Christopher Nolan memilih tidak terlalu mempermasalahkan kritik yang muncul sebelum film dirilis.
“memang sudah menjadi bagian dari pekerjaan”, seraya menambahkan, “perdebatan yang muncul sebelum orang benar-benar menonton film selalu tidak relevan, karena mereka yang berdebat belum mengetahui seperti apa sebenarnya film tersebut.”
Nolan mengatakan tujuan utamanya adalah menghadirkan kisah klasik yang mudah diterima penonton modern.
Ia juga ingin menghindari penggambaran dunia kuno yang hanya mengikuti pola lama Hollywood.
“Anda ingin mempertanyakan asumsi orang tentang bagaimana sesuatu seharusnya digambarkan dalam film dan dasar dari asumsi tersebut,” katanya mengenai pendekatannya terhadap film itu.
“Ada tantangan sekaligus risiko dalam pendekatan tersebut. Namun saya berharap, dengan membangun dunia yang utuh dan konsisten, penonton dapat memahami dunia itu saat menonton film dan merasa benar-benar mengenalnya.”
Di Yunani, kontroversi pemilihan pemeran tidak berkembang sebesar di Amerika Serikat.
Masyarakat setempat sudah lama terbiasa melihat aktor internasional memerankan tokoh Yunani kuno.
Gerard Butler pernah menjadi Raja Leonidas dalam 300 dan Brad Pitt memerankan Achilles di Troy.
Colin Farrell juga tampil sebagai Alexander Agung bersama Angelina Jolie dalam film Alexander.
Anthony Quinn bahkan dikenang luas lewat perannya sebagai tokoh utama dalam Zorba the Greek.
Tradisi itu berlanjut melalui jajaran pemeran bertabur bintang dalam The Odyssey versi Nolan.
Film tersebut dibintangi Matt Damon, Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Zendaya, Charlize Theron, hingga Lupita Nyong’o.
Meski demikian, partai nasionalis kecil Niki tetap melayangkan protes kepada pemerintah Yunani.
Partai tersebut menolak subsidi sekitar 6 juta euro untuk produksi lokal film itu.
Mereka menganggap dana publik digunakan mendukung interpretasi yang disebut membawa ideologi “woke”.
Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni menegaskan pemerintah tidak berwenang mengatur tafsir artistik.
“Bukan tugas negara untuk mengatur bagaimana seorang kreator harus menafsirkan sebuah karya atau mitos secara artistik,” katanya kepada majalah budaya populer Yunani, Lifo.
Profesor sastra Yunani kuno Christos Tsagalis menilai kualitas film harus diputuskan oleh penonton.
Menurutnya, yang paling penting ialah kemampuan film menangkap jiwa utama kisah Homer.
Ia menegaskan warisan Homer bertahan ribuan tahun karena selalu terbuka terhadap interpretasi baru.
“Saya pikir luar biasa bahwa sesuatu yang diciptakan pada satu masa oleh satu bangsa kini dapat dinikmati oleh begitu banyak orang di seluruh dunia. Ini adalah budaya yang dimiliki bersama,” kata Tsagalis.
Bagi Tsagalis, kekuatan utama The Odyssey terletak pada daya tarik ceritanya yang tidak lekang oleh waktu.
“Ini adalah kisah yang sangat memikat,” ujarnya. “Rasanya seperti sebuah film.”***



