MOSKWA, RUSIA – Pemerinah Rusia menuding Badan Energi Atom Internasional (IAEA) jadi dalang di balik eskalasi konflik antara Israel dan Iran menyusul serangan militer baru-baru ini. Pernyataan ini memanaskan suasana geopolitik global, di mana ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.
Dalam keterangan resmi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menegaskan bahwa IAEA memiliki peran signifikan dalam memicu serangan tersebut.
“IAEA, yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian nuklir, justru memicu ketidakstabilan dengan laporan-laporan bias yang memojokkan Iran,” ujar Zakharova, seperti dikutip dari kantor berita TASS.
Latar Belakang Tuduhan Rusia
Konflik ini berawal dari laporan IAEA yang menyebutkan bahwa Iran terus mempercepat program nuklirnya, termasuk pengayaan uranium di tingkat yang mengkhawatirkan. Laporan tersebut memicu reaksi keras dari Israel, yang kemudian melancarkan serangan udara ke fasilitas militer di Iran pada Oktober 2024. Rusia, sebagai sekutu Iran, menilai laporan IAEA sengaja dibuat untuk memprovokasi aksi militer.
Menurut Zakharova, IAEA gagal menjalankan tugasnya secara netral. “Badan ini seharusnya mempromosikan dialog, bukan menjadi alat politik Barat untuk menekan Iran,” tambahnya.
Rusia juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk menyelidiki independensi IAEA dalam menangani isu nuklir Iran.
Tanggapan Iran dan Israel
Pihak Iran mendukung pernyataan Rusia, menyebut serangan Israel sebagai “tindakan agresi yang disponsori Barat.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, mengatakan, “IAEA harus bertanggung jawab atas konsekuensi laporan mereka yang tidak berimbang.”
Di sisi lain, Israel membantah tuduhan Rusia dan menegaskan bahwa serangan mereka adalah respons terhadap ancaman nuklir Iran. “Kami tidak akan tinggal diam ketika Iran mengembangkan senjata yang mengancam keberadaan kami,” kata seorang pejabat senior Israel yang enggan disebut namanya.
Implikasi Global
Tuduhan Rusia terhadap IAEA memunculkan pertanyaan besar tentang kredibilitas badan PBB tersebut. Analis politik internasional, Dr. Ahmad Fauzi, mengatakan bahwa situasi ini dapat memperburuk hubungan antara Rusia dan Barat. “Jika IAEA dianggap tidak netral, ini bisa melemahkan kerjasama global dalam pengawasan nuklir,” ujarnya kepada media.
Konflik ini juga berpotensi mengganggu pasar energi dunia, mengingat Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar. Harga minyak global dilaporkan naik 3% sejak serangan Israel terjadi, menambah tekanan pada ekonomi dunia yang masih rapuh pasca pandemi.
Apa Langkah Selanjutnya?
Rusia mengusulkan sidang darurat di PBB untuk membahas peran IAEA, sementara Iran menyerukan sanksi terhadap Israel. Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutunya diperkirakan akan membela IAEA, yang dapat memperdalam polarisasi di Dewan Keamanan PBB.
Ketegangan ini menunjukkan betapa rumitnya dinamika geopolitik di Timur Tengah. Dengan tuduhan Rusia terhadap IAEA, dunia kini menanti apakah badan tersebut mampu membuktikan netralitasnya atau justru semakin terjebak dalam pusaran konflik global.