JAKARTA – Delapan puluh tahun Indonesia merdeka bukan hanya penanda umur bangsa, melainkan ajakan untuk kembali menghayati makna kemerdekaan sebagaimana digelorakan Bung Karno: kemerdekaan yang menyejahterakan rakyat, menjaga persatuan, dan menumbuhkan cinta tanah air. Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Pesan ini mengingatkan kita bahwa tantangan generasi kini adalah memberantas kemiskinan, ketimpangan, dan kebodohan yang masih menghambat kemajuan.
Semangat Trisakti yang diwariskan Bung Karno berdaulat secara politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan kini menemukan wujudnya melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah telah menetapkan program-program prioritas yang fokus pada pemenuhan hajat hidup rakyat, penguatan ekonomi dari bawah, dan pemeliharaan persatuan nasional. “Kemerdekaan itu harus kita isi dengan kerja nyata, agar rakyat kita tidak hanya merdeka secara politik, tetapi juga merdeka dari kemiskinan dan kelaparan,” tegas Presiden Prabowo.
Salah satu program utama adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi investasi besar bagi masa depan bangsa. Dengan menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah dan kelompok rentan secara bertahap, negara memastikan tidak ada anak Indonesia yang belajar dalam keadaan lapar. MBG tidak hanya menekan angka stunting, tetapi juga membuka kesempatan setara bagi seluruh anak bangsa, sehingga mereka tumbuh sehat, cerdas, dan siap bersaing.
Di sisi lain, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menghidupkan kembali cita-cita ekonomi kerakyatan yang diperjuangkan Bung Karno. “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsanya hidup dalam damai dan persaudaraan,” ucap Bung Karno dalam pidatonya di PBB tahun 1960, sebuah pesan yang relevan untuk membangun kemandirian ekonomi dari desa. Koperasi ini memperkuat posisi petani, nelayan, perajin, dan pelaku UMKM, memotong rantai distribusi yang panjang, serta menjaga agar nilai tambah hasil produksi tetap berada di desa.
Program lainnya, seperti Sekolah Rakyat dan Cek Kesehatan Gratis, memastikan rakyat memiliki akses yang merata terhadap pendidikan dan layanan kesehatan. Sekolah Rakyat memberikan fasilitas pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sedangkan Cek Kesehatan Gratis memungkinkan deteksi dini masalah kesehatan fisik maupun mental. Kedua program ini menutup kesenjangan layanan dasar sekaligus memperkuat sumber daya manusia sejak usia dini.
Pemerintah juga menggenjot pembangunan infrastruktur pangan dan air melalui lumbung pangan, bendungan, dan irigasi. Ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan strategi besar untuk memperkuat ketahanan pangan dan air, menjaga stabilitas harga, dan mengurangi disparitas antarwilayah. Dengan pangan yang cukup, harga yang stabil, dan akses air yang terjamin, fondasi persatuan bangsa akan semakin kokoh.
Bagi saya, cinta tanah air bukan sekadar mengibarkan bendera setiap 17 Agustus, tetapi terwujud ketika kita memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang cukup, warga desa memiliki koperasi yang kuat, sekolah dan fasilitas kesehatan terjamin, serta kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Di bidang penegakan hukum, yang menjadi amanah saya di Komisi III DPR RI, persatuan dijaga dengan kepastian hukum yang berkeadilan, agar rasa keadilan sosial benar-benar hadir di tengah masyarakat.
Esensi kemerdekaan adalah keberanian mengambil peran. Pemerintah pusat merancang kebijakan dan anggaran, pemerintah daerah memastikan implementasi, DPR melakukan pengawasan, dan rakyat menjadi pelaku utama. Delapan puluh tahun lalu, Proklamasi membebaskan kita dari penjajahan; delapan puluh tahun kemudian, tugas kita membebaskan rakyat dari ketertinggalan, ketimpangan, dan kemiskinan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya,” kata Bung Karno, dan menghormati jasa itu berarti meneruskan perjuangan mereka dengan kerja nyata. Itulah makna kemerdekaan yang sejati: mengubah kebijakan menjadi keadilan yang dirasakan setiap hari dari meja makan anak sekolah hingga lumbung-lumbung desa yang kembali penuh.
Merdeka!
Oleh: Bimantoro Wiyono, S.H.
Anggota Komisi III DPR RI
Fraksi Partai Gerindra