Pasar modal Indonesia harus mengawali pekan ini dengan langkah gontai. Pada perdagangan Senin (30/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjebak dalam zona merah, tertekan oleh sentimen negatif ganda: membara di Timur Tengah dan mendingin di bursa global.
Sempat terkapar hingga 1,74 persen ke level psikologis di bawah 7.000 pada pembukaan pagi, IHSG perlahan bangkit meski akhirnya tetap ditutup melemah tipis 0,08 persen di level 7.091,67. Tak hanya saham, kilau harga perak Antam pun meredup, turun Rp1.000 menjadi Rp43.550 per gram.
Badai di Sektor Keuangan dan Aksi Jual Asing
Sektor keuangan menjadi “biang kerok” pelemahan hari ini dengan koreksi tajam sebesar 1,75 persen. Para investor asing tampaknya sedang dalam mode exit, tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp1,89 triliun.
Beberapa raksasa blue chip yang menjadi sasaran aksi lego asing antara lain:
-
Sektor Perbankan: BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI.
-
Telekomunikasi: TLKM.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan tekanan masih akan membayangi IHSG dalam waktu dekat dengan rentang support krusial di angka 6.900 hingga 7.000.
Tensi Geopolitik dan Efek Dominasi Minyak
Ketidakpastian di Timur Tengah bukan sekadar isu politik, tapi telah menjelma menjadi beban ekonomi nyata. Harga minyak mentah dunia yang betah nangkring di atas 100 dolar AS per barel memicu kekhawatiran inflasi global.
Kondisi ini diperparah dengan rontoknya bursa Wall Street pada akhir pekan lalu:
-
Nasdaq Composite: Anjlok 2,15%
-
Dow Jones: Turun 1,73%
-
S&P 500: Melemah 1,67%
Pelaku pasar kini menghadapi kenyataan pahit. Harapan akan penurunan suku bunga tahun ini pupus, berganti dengan prediksi 50 persen peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed pada Desember 2026. Pergeseran kebijakan moneter AS ini membuat pasar berkembang seperti Indonesia kian terdesak, apalagi IHSG tercatat sudah terkoreksi lebih dari 23 persen dari level tertingginya sejak awal tahun.