BEIJING — China menyatakan siap memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat menjelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada 13-15 Mei 2026, di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan geopolitik global.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan Beijing membuka ruang kerja sama yang lebih luas dengan Washington dengan mengedepankan prinsip kesetaraan dan saling menghormati.
Sikap itu dinilai sebagai sinyal positif setelah hubungan kedua negara sempat mengalami ketegangan panjang akibat perang dagang, rivalitas teknologi, hingga isu geopolitik kawasan Indo-Pasifik.
“China siap bekerja sama dengan AS untuk memperluas kerja sama dan mengelola perbedaan dalam semangat kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan, serta memberikan lebih banyak stabilitas dan kepastian bagi dunia yang berubah dan bergejolak,” kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing.
China juga menyambut kedatangan Donald Trump sebagai momentum strategis untuk membuka kembali dialog tingkat tinggi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut. Dalam agenda kunjungan itu, kedua pemimpin negara disebut akan membahas berbagai isu penting, mulai dari hubungan bilateral, stabilitas kawasan, hingga pembangunan ekonomi global.
Kunjungan Trump kali ini menjadi perhatian internasional karena terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangi perlambatan pertumbuhan dan ketidakpastian pasar. Selain agenda politik, lawatan tersebut juga diwarnai kepentingan bisnis skala besar.
Sedikitnya 17 CEO perusahaan raksasa Amerika Serikat ikut mendampingi Trump dalam kunjungan ke China. Sejumlah nama besar yang masuk dalam rombongan di antaranya CEO BlackRock Larry Fink, CEO Apple Tim Cook, serta Elon Musk yang memimpin Tesla dan SpaceX.
Kehadiran para petinggi korporasi tersebut memperlihatkan bahwa pasar China masih memiliki posisi vital bagi perusahaan-perusahaan Amerika, terutama di sektor teknologi, investasi, manufaktur, dan kendaraan listrik.
Analis politik asal Inggris, David Kiwuwa, menilai Washington saat ini membutuhkan hubungan yang lebih stabil dengan Beijing untuk menopang pemulihan ekonomi domestik Amerika Serikat. Menurutnya, kondisi ekonomi AS yang menghadapi tekanan membuat pemerintah dan dunia usaha mendorong normalisasi hubungan dengan China.
“Amerika Serikat benar-benar membutuhkan China,” ujar Kiwuwa.
Ia menambahkan, hubungan ekonomi kedua negara tidak dapat dipisahkan karena keterkaitan rantai pasok global dan besarnya nilai perdagangan bilateral yang selama ini menjadi penopang ekonomi dunia.
“Ekonomi Amerika sedang goyah, dan oleh karena itu, kebutuhan untuk menghidupkan kembali hubungan antara China dan Amerika Serikat benar-benar menjadi prioritas penting bagi Washington,” lanjutnya.
Kiwuwa juga menilai kunjungan Trump ke Beijing dapat menjadi titik awal pemulihan hubungan setelah bertahun-tahun diwarnai perang tarif dan pembatasan perdagangan. Menurutnya, momentum tersebut membuka peluang bagi kedua negara untuk kembali membangun kemitraan ekonomi yang lebih pragmatis.
Kunjungan terakhir Donald Trump ke China tercatat hampir satu dekade lalu. Kini, pertemuan terbaru antara Washington dan Beijing dipandang memiliki arti strategis yang lebih besar karena berlangsung setelah berbagai ketegangan ekonomi dan politik yang sempat memengaruhi stabilitas perdagangan internasional.
“Langkah ini menandai arah positif bagi AS dan China untuk kembali terlibat dan mungkin menjadi mitra ekonomi global,” kata Kiwuwa.
Ia memperkirakan pertemuan kedua negara berpotensi menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, termasuk kemungkinan kompromi dagang dan kerja sama investasi lintas sektor. Menurutnya, baik Beijing maupun Washington diperkirakan akan membawa berbagai konsesi dalam meja perundingan demi mencapai hasil konkret.
Di sisi lain, pasar global turut menantikan hasil kunjungan tersebut karena hubungan AS-China selama ini memiliki dampak langsung terhadap pergerakan ekonomi internasional, termasuk sektor perdagangan, teknologi, energi, dan investasi.
Jika perundingan berjalan positif, hubungan dua negara itu diyakini dapat memberi sentimen optimistis bagi pasar dunia sekaligus meredakan ketidakpastian geopolitik yang dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat.