BANDUNG – Kabar kelulusan itu akhirnya datang setelah penantian panjang. Di ujung perjuangan yang penuh air mata, Hafid Nur Hidayah hanya mampu mengucapkan satu kalimat sederhana. Kalimat yang mungkin ingin sekali didengar oleh dua orang yang paling berjasa dalam hidupnya, tetapi tak lagi berada di sisinya.
“Alhamdulillah Pak, saya bisa lulus murni jadi tentara.” ucapnya.
Ucapan itu meluncur lirih, seolah ditujukan kepada almarhum ayahnya. Sosok yang sejak Hafid masih kecil selalu menanamkan satu mimpi sederhana, melihat putranya mengenakan seragam TNI dan mengabdikan hidup untuk bangsa. Sayangnya, ketika mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan, sang ayah sudah lebih dulu berpulang. Tak lama berselang, ibunya pun menyusul.
Bagi sebagian orang, kehilangan kedua orang tua bisa menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Namun bagi Hafid, duka justru menjadi titik balik. Ia memilih menyimpan kesedihan itu sebagai tenaga untuk terus berjalan, sekalipun harus melakukannya seorang diri.
Di halaman rumahnya, masih berdiri sebuah tiang pull up sederhana yang mulai berkarat dimakan waktu. Tiang itu bukan alat olahraga biasa. Kedua tangan ayahnya sendiri yang merakitnya bertahun-tahun lalu agar sang anak bisa berlatih mengejar cita-cita menjadi prajurit TNI.
Setiap pagi dan sore, Hafid menggenggam besi itu dengan satu keyakinan: selama ia belum menyerah, harapan ayahnya belum benar-benar hilang.
Tak ada pusat kebugaran yang megah. Tak ada fasilitas latihan yang lengkap. Yang ada hanyalah tekad, disiplin, dan doa yang terus dipanjatkan dalam diam. Berkali-kali tubuhnya jatuh kelelahan, berkali-kali pula ia kembali berdiri. Di setiap tarikan tubuh pada tiang sederhana itu, terselip kerinduan yang tak pernah bisa diucapkan kepada kedua orang tuanya.
Pemuda kelahiran Kebumen, 30 Desember 2003, itu memahami betul bahwa jalan menuju TNI bukan perkara mudah. Setiap tahapan seleksi menuntut kesiapan fisik, mental, hingga integritas. Namun ia percaya, tidak ada perjuangan yang sia-sia jika dijalani dengan jujur.
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Namanya dinyatakan lulus murni menjadi prajurit TNI.
Mungkin tidak ada pelukan ayah yang menunggu di garis akhir. Tidak ada senyum ibu yang menyambut ketika ia pulang membawa kabar bahagia. Namun di dalam hati Hafid, keduanya seolah tetap hadir.
Ia percaya, doa orang tua tidak pernah benar-benar pergi. Doa itu tetap hidup, mengiringi setiap langkah anaknya, bahkan ketika pemilik doa telah lebih dulu meninggalkan dunia.
Kini, pemuda yang tinggal di Dusun Banjar Harja RT 014/RW 004, Desa Kertajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, resmi menjadi bagian dari keluarga besar TNI. Seragam yang dikenakannya bukan sekadar simbol profesi, melainkan bukti bahwa sebuah janji akhirnya berhasil ditepati.
Perjalanan Hafid mengingatkan bahwa tidak semua kemenangan lahir dari kehidupan yang mudah. Ada yang harus melewati kehilangan, kesepian, dan keterbatasan sebelum akhirnya berdiri tegak di garis finis.
Di balik seragam loreng yang kini dikenakannya, tersimpan kisah seorang anak yang tidak pernah berhenti percaya pada pesan terakhir ayahnya. Sebuah pesan yang terus hidup, bahkan setelah suara sang ayah tak lagi bisa didengar.
Karena pada akhirnya, ada mimpi yang tidak hanya diperjuangkan untuk diri sendiri. Ada mimpi yang diperjuangkan agar orang tua, di mana pun mereka berada, dapat tersenyum melihat anaknya menepati janji.