JAKARTA – Beragam makanan dan minuman kekinian menjadi pilihan banyak anak muda, mulai dari seblak, ayam goreng crispy, hingga minuman boba. Meski menggugah selera, konsumsi berlebihan sejumlah menu tersebut dapat berdampak pada kesehatan, terutama jika tinggi lemak jenuh, gula tambahan, dan kalori.
Pola makan yang tidak seimbang dapat meningkatkan risiko gangguan kadar lemak dalam darah atau dislipidemia. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya kadar kolesterol LDL atau yang dikenal sebagai kolesterol jahat.
Mengutip laporan detikHealth, terdapat lima jenis makanan dan minuman populer di kalangan Gen Z yang perlu diperhatikan kandungan gizinya. Risiko kesehatannya bergantung pada bahan, cara pengolahan, porsi, dan seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi.
1. Boba dan Kopi Susu Gula Aren
Minuman seperti boba dan kopi susu gula aren banyak diminati karena memiliki beragam rasa dan mudah ditemukan di berbagai gerai.
Namun, kandungan gula tambahan pada minuman tersebut perlu diperhatikan. Beberapa varian juga menggunakan susu tinggi lemak atau krimer yang dapat menambah asupan lemak jenuh.
Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah. Sementara itu, asupan lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan kadar LDL pada sebagian orang.
Untuk mengurangi risikonya, konsumen dapat memilih ukuran minuman yang lebih kecil, mengurangi takaran gula, serta membatasi tambahan krimer atau topping manis.
2. Croffle, Donat, dan Dessert dengan Krim
Croffle, donat, dan aneka hidangan penutup dengan topping krim atau keju juga termasuk makanan yang perlu diperhatikan kandungan gizinya.
Produk tersebut dapat mengandung cukup banyak gula dan lemak, bergantung pada bahan serta proses pembuatannya. Penggunaan mentega, krim, dan bahan tertentu yang tinggi lemak jenuh dapat memengaruhi kadar LDL apabila dikonsumsi berlebihan.
Bukan berarti makanan manis harus dihindari sepenuhnya. Konsumen tetap dapat menikmatinya dengan mengatur porsi dan frekuensi, serta menyeimbangkannya dengan makanan bergizi lainnya.
3. Ayam Goreng Crispy dan Makanan Cepat Saji
Ayam goreng berbalut tepung dan makanan cepat saji menjadi pilihan praktis bagi sebagian anak muda. Namun, kandungan lemak dan kalorinya dapat meningkat bergantung pada bagian ayam, lapisan tepung, serta metode pengolahan.
Penggunaan minyak secara berulang juga dapat menurunkan kualitas minyak dan berpotensi meningkatkan paparan senyawa hasil pemanasan. Sementara itu, lemak trans industri yang terdapat pada sebagian produk pangan dapat meningkatkan LDL dan menurunkan HDL atau kolesterol baik.
Untuk pilihan yang lebih sehat, ayam dapat diolah dengan cara dipanggang atau menggunakan air fryer. Memilih bagian tanpa kulit dan mengombinasikannya dengan sayuran juga dapat membantu mengurangi asupan lemak.
4. Seblak dan Jajanan Pedas Viral
Seblak menjadi salah satu jajanan yang digemari karena perpaduan rasa pedas dan gurih. Bahan tambahannya pun beragam, mulai dari kerupuk, telur, sosis, bakso, hingga ceker ayam.
Kandungan gizinya bergantung pada komposisi dan cara memasak. Seblak dengan banyak kerupuk, minyak, serta aneka topping olahan dapat menyumbang kalori, lemak, dan natrium dalam jumlah cukup tinggi.
Perlu dipahami bahwa rasa pedas bukan penyebab langsung kolesterol tinggi. Risiko lebih berkaitan dengan keseluruhan bahan makanan, jumlah minyak, jenis topping, serta pola konsumsi sehari-hari.
Agar lebih seimbang, konsumen bisa mengurangi minyak dan topping olahan, membatasi tambahan garam atau bumbu tinggi natrium, serta menambahkan sumber protein dan sayuran.
5. Camilan Mozzarella dan Makanan Serba Keju
Corndog keju, mi dengan tambahan keju, dan camilan mozzarella juga populer sebagai makanan kekinian.
Keju mengandung protein dan kalsium, tetapi beberapa jenisnya memiliki kadar lemak jenuh yang cukup tinggi. Jika dikombinasikan dengan adonan tepung, minyak, dan saus dalam jumlah banyak, kandungan kalori makanan pun dapat meningkat.
Asupan lemak jenuh yang berlebihan dapat meningkatkan kadar LDL. Karena itu, penting untuk memperhatikan jenis keju, ukuran porsi, dan bahan tambahan yang digunakan.
Konsumen tidak harus menghilangkan keju dari menu sehari-hari. Kuncinya adalah mengatur jumlah konsumsi dan memastikan pola makan secara keseluruhan tetap seimbang.
Mengapa Kolesterol Tinggi Perlu Diwaspadai Sejak Muda?
Kolesterol merupakan zat yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk membran sel, menghasilkan hormon, dan membantu pembentukan vitamin D. Tubuh juga memproduksi kolesterol secara alami, terutama melalui hati.
Masalah muncul ketika kadar kolesterol dalam darah, khususnya LDL, terlalu tinggi. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak pada dinding pembuluh darah atau aterosklerosis.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Kolesterol tinggi juga sering tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali, sehingga pemeriksaan darah menjadi cara penting untuk mengetahui kadarnya.
Risiko kolesterol tinggi tidak hanya ditentukan oleh makanan. Faktor keturunan, usia, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan kebiasaan merokok juga dapat berpengaruh.
Cara Menjaga Kolesterol Tetap Terkontrol
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menyarankan pembatasan lemak jenuh dan lemak trans sebagai bagian dari pola makan untuk mengendalikan kolesterol.
Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang lebih rendah lemak jenuh. Aktivitas fisik secara teratur turut membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Dengan demikian, seblak, boba, ayam goreng crispy, dan makanan kekinian lainnya tidak harus dihindari sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan komposisi, porsi, dan frekuensi konsumsi serta menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.