JAKARTA – Akhir pekan kerap dimanfaatkan untuk membayar kekurangan waktu tidur setelah menjalani rutinitas padat selama hari kerja. Sebagian orang bahkan memilih tidur hingga siang atau sore demi menghilangkan rasa lelah yang menumpuk.
Namun, kebiasaan tidur berlebihan pada Sabtu dan Minggu bukan solusi ideal jika pola tidur pada hari kerja terus berantakan. Perubahan jadwal tidur yang terlalu jauh juga dapat mengganggu ritme sirkadian, yakni sistem biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Pakar tidur atau somnolog, dr Andreas Prasadja, RPSGT, mengingatkan bahwa kebiasaan tidur maraton saat akhir pekan tidak baik jika dilakukan untuk menggantikan pola tidur yang kurang teratur sepanjang pekan.
Pola Tidur Tidak Teratur Bisa Mengganggu Ritme Tubuh
Kurang tidur selama hari kerja sering membuat seseorang berusaha mengganti waktu istirahat yang hilang saat akhir pekan. Masalahnya, tidur lebih lama pada Sabtu dan Minggu tidak selalu mampu memulihkan seluruh dampak kurang tidur yang terjadi berulang kali.
National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat menjelaskan bahwa kebutuhan tidur yang tidak terpenuhi tidak selalu bisa diganti hanya dengan tidur lebih lama pada akhir pekan. Pemulihan juga bergantung pada seberapa besar kekurangan tidur yang telah terakumulasi.
Perubahan waktu tidur dan bangun secara drastis antara hari kerja dan akhir pekan dapat membuat jam biologis tubuh tidak selaras dengan jadwal aktivitas sehari-hari. Akibatnya, seseorang berpotensi kembali kesulitan tidur saat malam menjelang hari kerja.
Kurang Tidur Berkepanjangan Berkaitan dengan Masalah Kesehatan
Dampak kurang tidur bukan sekadar mengantuk atau merasa lelah pada siang hari. Jika berlangsung terus-menerus, kekurangan tidur dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan.
National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) menyebutkan bahwa kurang tidur dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, perubahan suasana hati, serta penurunan produktivitas dan keselamatan dalam beraktivitas.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 2019 juga menemukan bahwa tidur pemulihan saat akhir pekan tidak sepenuhnya mencegah gangguan metabolisme akibat pola kurang tidur yang berulang. Dalam penelitian tersebut, sensitivitas insulin menurun pada kelompok yang mengalami pembatasan tidur dan mencoba memulihkannya pada akhir pekan.
Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang tidur lebih lama saat akhir pekan pasti mengalami gangguan metabolisme. Risiko dipengaruhi oleh pola tidur, durasi kekurangan tidur, dan berbagai faktor kesehatan lainnya.
Berapa Lama Waktu Tidur yang Dianjurkan?
Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Durasi tersebut membantu memenuhi kebutuhan istirahat sekaligus mendukung fungsi tubuh selama beraktivitas.
Karena itu, memperbaiki kebiasaan tidur setiap hari lebih penting daripada mengandalkan tidur panjang pada akhir pekan. Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif konsisten, termasuk ketika tidak bekerja atau berkuliah.
Jika masih merasa lelah, waktu bangun pada akhir pekan bisa dibuat sedikit lebih longgar tanpa mengubah jadwal secara ekstrem. Tidur siang singkat juga dapat menjadi pilihan untuk membantu mengurangi kantuk, selama tidak mengganggu tidur malam.
Akhir Pekan Tetap Bisa Dimanfaatkan untuk Beraktivitas
Selain beristirahat, akhir pekan dapat diisi dengan olahraga ringan, kegiatan di luar rumah, dan bersosialisasi. Aktivitas tersebut membantu menjaga keseimbangan antara pemulihan fisik dan rutinitas sehari-hari.
Jika rasa kantuk berlebihan tetap muncul meski waktu tidur sudah cukup, atau kesulitan tidur terus berulang, kondisi tersebut sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Intinya, tidur lebih lama sesekali bukan berarti selalu berbahaya. Namun, menjadikan akhir pekan sebagai satu-satunya waktu untuk mengganti kekurangan tidur bukan kebiasaan yang ideal. Menjaga durasi dan jadwal tidur yang konsisten tetap menjadi langkah utama untuk mendukung kesehatan.