JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menembus angka 5,2 persen pada kuartal II 2025 dinilai Istana sebagai buah dari strategi stimulus fiskal dan penciptaan ekosistem pertumbuhan yang terintegrasi.
Paket kebijakan yang dirancang pemerintah dinilai menjadi motor penggerak sejumlah sektor, termasuk konsumsi rumah tangga dan investasi.
Juru Bicara Presiden yang juga menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan hasil akumulasi berbagai kebijakan terpadu.
Menurutnya, program stimulus pemerintah telah memberi efek signifikan terhadap belanja masyarakat, pengeluaran pemerintah, dan dorongan investasi.
“Kalau menurut pendapat kami, tentu semua faktor berpengaruh di situ karena pertumbuhan ekonomi itu kan terdiri dari beberapa komponen.”
“Di situ ada belanja rumah tangga, kemudian di situ ada belanja pemerintah, di situ ada komponen investasi,” kata Prasetyo menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Selasa (5/8).
Stimulus Berperan Besar, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Pertumbuhan
Lebih lanjut, Prasetyo menyebut bahwa pencapaian ini merupakan buah dari ekosistem ekonomi yang dibentuk pemerintah, meskipun dirinya tidak menjelaskan secara teknis rincian pertumbuhan tersebut.
Ia menegaskan bahwa metode perhitungan tetap menjadi domain Badan Pusat Statistik (BPS).
“Kalau secara teknis, perhitungan ya tentunya ada di BPS. Kalau kita sebagai pemerintah kan tugasnya adalah tadi menciptakan ekosistem yang memungkinkan semua komponen-komponen tadi itu bertumbuh, tetapi bahwa cara menghitungnya seperti apa, kan itu menjadi domainnya BPS,” sambungnya.
Berdasarkan data resmi BPS, ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 tumbuh sebesar 5,12 persen secara tahunan (year-on-year) dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp5.947 triliun.
Bila dibandingkan dengan kuartal I 2025 yang mencatatkan angka 4,87 persen, terlihat adanya tren percepatan pertumbuhan.
Industri, Pertanian, dan Perdagangan Beri Kontribusi Dominan
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa hampir seluruh sektor usaha menunjukkan pertumbuhan positif.
Empat sektor utama — industri pengolahan, pertanian, perdagangan, dan pertambangan — menyumbang 63,59 persen terhadap PDB nasional.
“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun 2025 tercatat 5,12 persen secara tahunan dibanding kuartal II tahun 2024. Angka pertumbuhan secara kuartalan 4,04 persen dibanding kuartal sebelumnya,” ujar Edy.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan dengan kontribusi sebesar 54,25 persen terhadap PDB, dan andil sebesar 2,64 persen terhadap total pertumbuhan.
Sementara investasi atau pembentukan modal tetap bruto mencatat kenaikan signifikan sebesar 6,99 persen. Satu-satunya komponen yang mengalami kontraksi adalah pengeluaran pemerintah.***