JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa emas perhiasan menjadi komoditas paling dominan dalam mendorong inflasi tahunan Indonesia sepanjang 2025, seiring tren kenaikan harga emas global yang tak kunjung mereda.
Hal tersebut seperti disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, Senin (5/1/2026).
“Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025.”
“Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025.”
Menurut Pudji, emas perhiasan menyumbang andil inflasi sebesar 0,79 persen sepanjang tahun lalu, menjadikannya komoditas utama yang mempengaruhi kenaikan harga secara kumulatif.
Selain emas, komoditas lain yang cukup berpengaruh terhadap inflasi tahunan meliputi cabai merah dengan andil 0,18 persen, diikuti ikan segar, cabai rawit, dan beras yang masing-masing menyumbang 0,15 persen.
Komoditas lainnya yang tidak kalah signifikan mencakup daging ayam ras dan tarif air minum PAM masing-masing 0,14 persen, bawang merah 0,10 persen, serta Sigaret Kretek Mesin (SKM) 0,06 persen.
BPS mencatat, inflasi kumulatif hingga Desember 2025, baik secara tahunan (yoy) maupun year-to-date (ytd), mencapai 2,92 persen, meningkat dibandingkan inflasi tahunan 2024.
Pudji menambahkan, inflasi tahunan terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 4,58 persen, memberikan andil inflasi terbesar sebesar 1,33 persen.
“Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras,” jelasnya.
Kelompok pengeluaran lain yang mencatat andil dominan terhadap inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 13,33 persen dan andil 0,87 persen, dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Sementara itu, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi tahunan 0,28 persen dengan andil deflasi 0,02 persen.
Berdasarkan komponen harga, seluruh kategori mengalami inflasi dengan inflasi tahunan tertinggi pada komponen harga bergejolak (volatile food) sebesar 6,21 persen, memberikan andil 1,01 persen.
Pemicunya dari harga cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
Komponen inti mencatat inflasi tahunan 2,38 persen dengan andil terbesar 1,53 persen, didorong oleh komoditas emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, biaya pendidikan tinggi, dan kopi bubuk.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi 1,93 persen dengan andil 0,38 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif air minum PAM yang terjadi di 13 wilayah, kemudian sigaret kretek mesin atau SKM, bensin, dan sigaret kretek tangan atau SKT,” ujar Pudji Ismartini.***