JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di Indonesia mulai memasuki fase akhir pada April 2026 seiring tren penurunan curah hujan sebagai tanda awal peralihan ke musim kemarau.
BMKG menegaskan bahwa berakhirnya musim hujan tidak terjadi serempak di seluruh wilayah karena perbedaan karakteristik iklim dan kondisi geografis masing-masing daerah di Indonesia.
Ketua Tim Analisis Variabel Iklim BMKG Amsari Mudzakir Setiawan menjelaskan bahwa pola hujan bulanan menunjukkan penurunan signifikan mulai April yang akan berlanjut hingga Mei dan Juni.
“Kalau kita lihat dari prediksi hujan bulanan, umumnya curah hujan mulai berkurang pada periode bulan April. Selanjutnya di Mei dan Juni akan semakin berkurang,” kata Amsari dikutip dari RRI, Kamis (29/1/2026).
BMKG mencatat hingga pertengahan Januari 2026 sebanyak 80,7 persen wilayah Indonesia atau setara 564 zona musim telah berada dalam periode musim hujan aktif.
Saat ini BMKG masih memfinalisasi pemetaan awal musim kemarau secara rinci untuk tiap wilayah agar masyarakat memperoleh informasi yang lebih spesifik dan akurat.
Dari sisi durasi, musim hujan 2026 dinilai berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi klimatologis normal sehingga berpotensi menggeser kedatangan musim kemarau.
“Kalau sekilas, dari di sisi durasinya sendiri, musim hujannya akan lebih panjang dibandingkan dengan normalnya. Jadi kemungkinan musim kemarauannya akan datang lebih lambat dan juga ada beberapa wilayah yang relatif sama dengan normalnya,” ujarnya.
BMKG mengungkapkan bahwa dinamika iklim global dan regional turut memengaruhi pola musim tahun ini, termasuk sisa dampak La Nina sejak 2025, Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, serta pasokan uap air dari monsun Asia.
Meski musim hujan diprediksi mendekati akhir, potensi cuaca ekstrem masih tinggi terutama pada Januari dan Februari yang merupakan puncak musim hujan.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, angin kencang, dan risiko bencana hidrometeorologi selama masa transisi musim.
“Kepada masyarakat tentunya lebih memperhatikan ya informasi baik itu prediksi cuaca, prediksi peringatan dini cuaca ekstrim. Selalu mengupdate informasi-informasi iklim dan cuaca dari kanal resmi BMKG,” kata Amsari.***