Masih ingat kisah pilu Nenek Atnah (65), penjual nasi uduk di Pondok Melati yang kehilangan modal dagangnya akibat ditipu pembeli? Kini, pelaku yang tega menghancurkan mata pencaharian lansia tersebut tak bisa lagi menghirup udara bebas.
Tim Resmob Polda Metro Jaya bergerak cepat menelusuri jejak pelaku setelah kasus ini viral dan menyentuh hati banyak orang. Pada Jumat (20/2/2026) subuh, polisi berhasil mengepung dan menangkap pelaku di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur.
“Tim berhasil mengamankan satu orang pelaku atas nama Toto Rusdianto alias Billy. Perannya sebagai eksekutor tunggal,” jelas Kanit V Resmob Polda Metro Jaya, AKP Arief Ryzki Wicaksana, Senin (23/2). Dari tangan Billy, polisi juga menyita sejumlah barang bukti yang menguatkan aksinya.
Modus “Pura-pura Beli” yang Menghancurkan Modal
Kejadian yang menimpa Nenek Atnah pada Selasa (17/2) lalu memang sangat menyayat hati. Pelaku datang dengan modus memesan empat bungkus nasi uduk. Saat Nenek Atnah sibuk membungkus pesanan dengan penuh semangat, Billy justru mengincar kaleng biskuit tempat sang nenek menyimpan seluruh uang modal dan keuntungannya.
“Saya lagi bungkusin, tidak lihat. Tahu-tahu orang itu langsung ambil uang saya. Pas saya cek, uang sudah tidak ada,” kenang Nenek Atnah dengan nada sedih.
Uang sebesar Rp700 ribu yang raib itu adalah satu-satunya nyawa bagi usahanya. Akibat kejadian itu, ia terpaksa berhenti berjualan karena tak lagi memiliki modal tersisa.
Perjuangan Seorang Diri di Usia Senja
Nenek Atnah bukanlah penjual biasa. Di usianya yang sudah berkepala enam, ia masih bangun pukul 01.00 dini hari setiap hari untuk memasak sendiri dagangannya. Pukul 05.00 pagi, ia harus berjalan kaki sejauh 350 meter sambil menenteng beban dagangan menuju lapaknya.
Kisah pilu ini sebelumnya sempat menarik perhatian Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang mengunjungi kediaman sang nenek untuk memberikan dukungan moral.
Kini, dengan tertangkapnya Billy, proses penyidikan akan terus dikembangkan untuk memastikan pelaku mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya yang telah mencoreng rasa kemanusiaan.