Pasar mata uang kripto memasuki “musim dingin mendadak” di awal minggu ini. Bitcoin tersungkur di bawah level psikologis $63.000, menyeret seluruh aset digital ke zona merah setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif global hingga 15%.
Langkah agresif ini memperparah aksi jual massal yang telah menghapus hampir setengah nilai Bitcoin sejak masa kejayaannya pada Oktober lalu.
Drama Hukum dan Kebingungan Tarif
Kejatuhan ini dipicu oleh kekacauan kebijakan di Washington. Awalnya, Mahkamah Agung AS membatalkan tarif darurat Trump karena dianggap melampaui wewenang kepresidenan. Namun, hanya dalam hitungan jam, Trump membalas dengan perintah eksekutif baru menggunakan dasar hukum berbeda.
Situasi semakin membingungkan ketika Trump memposting di Truth Social akan menaikkan tarif hingga 15%, namun saat diberlakukan pada Selasa dini hari, tarif yang muncul adalah 10%. Kebingungan data antara “perintah media sosial” dan “eksekusi lapangan” ini membuat investor global cemas dan memilih untuk menarik diri.
Pembantaian di Pasar Berjangka
Dampaknya terhadap pasar kripto sungguh brutal. Dalam waktu 24 jam, kontrak derivatif senilai $507 juta (sekitar Rp7,9 triliun) terlikuidasi paksa. Sebanyak 86% dari jumlah tersebut adalah posisi long (investor yang bertaruh harga akan naik).
Beberapa data mengerikan dari lantai bursa:
-
Bitcoin: Merosot dari $67.600 ke titik terendah $62.700.
-
Ethereum: Terjun bebas ke angka $1.800.
-
Indeks Fear & Greed: Anjlok ke angka 5 dari 100, menandakan ketakutan ekstrem yang jarang terjadi dalam sejarah kripto.
-
ETF Spot: Mencatat arus keluar (outflow) bersih sebesar $203 juta.
Emas Jadi Pemenang, Saham Merana
Sentimen negatif ini tidak hanya membakar kripto. Indeks S&P 500 dan Nasdaq turut merosot, sementara Dow Jones kehilangan lebih dari 800 poin. Di tengah badai volatilitas ini, emas justru bersinar sebagai aset safe haven, meroket 3% hingga menembus $5.200 per troy ounce.
Analis dari Presto Research menyebutkan bahwa Bitcoin kini sedang mencerminkan permintaan yang sangat lemah dan kondisi likuiditas yang menipis. Pasar saat ini tidak hanya bertarung dengan fundamental ekonomi, tetapi juga dengan ketidakpastian kebijakan yang sulit diprediksi dari meja oval.