PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat sistem perawatan sarana perkeretaapian di Sumatera Selatan melalui optimalisasi UPT Balai Yasa Lahat. Unit ini menjadi pusat perawatan strategis yang menopang keberlangsungan perjalanan kereta api barang dan penumpang di wilayah Divre III Palembang dan Divre IV Tanjungkarang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa Balai Yasa Lahat berperan sentral dalam menjaga performa sarana yang beroperasi di lintas Sumatera bagian selatan.
“Keandalan perjalanan kereta api sangat ditentukan oleh kualitas perawatan. Balai Yasa Lahat memastikan setiap lokomotif, kereta, dan gerbong berada dalam kondisi optimal sebelum kembali melayani pelanggan maupun angkutan logistik,” ujar Anne.
Balai Yasa Lahat berdiri di atas lahan seluas 109.310,734 meter persegi dengan luas bangunan 47.754,64 meter persegi serta memiliki 36 jalur dengan total panjang 3.842 meter. Infrastruktur ini memungkinkan proses perawatan berjalan sistematis, mulai dari pemeriksaan berkala, rekayasa teknik, perbaikan berat, hingga pengujian akhir sebelum sarana kembali beroperasi.
Balai Yasa Lahat bertanggung jawab atas 233 lokomotif, 82 kereta, 5.979 gerbong, 17 genset, dan 27 peralatan khusus yang tersebar di Divre III dan Divre IV. Sepanjang 2025, BY Lahat telah menyelesaikan perawatan 61 lokomotif, 51 kereta, 2.431 gerbong, 5 genset, serta 4 peralatan khusus. Capaian tersebut menjaga siklus operasional angkutan logistik dan layanan penumpang tetap berjalan konsisten dan terjadwal.
Di wilayah Sumatera Selatan, angkutan barang didominasi komoditas batu bara yang menjadi penopang utama distribusi energi nasional. Volume angkutan batu bara KAI pada 2025 mencapai 57.522.994 ton atau sekitar 82,4 persen dari total angkutan barang perusahaan. Pergerakan besar tersebut sangat bergantung pada kesiapan lokomotif dan gerbong yang dirawat secara berkala di Balai Yasa Lahat.
Peran Balai Yasa Lahat juga menjangkau lintas wilayah. Balai Yasa ini menyuplai kebutuhan suku cadang untuk Divre I Sumatra Utara, menangani perawatan roda untuk Divre II Sumatra Barat, serta memberikan dukungan teknis roda bagi LRT Sumsel. Integrasi dukungan tersebut memperkuat ekosistem perawatan sarana KAI di Sumatera sehingga standar kualitas dapat dijaga secara seragam.
Anne menegaskan bahwa Sumatera Selatan merupakan salah satu koridor utama angkutan barang berbasis rel di Indonesia. Stabilitas distribusi energi dan komoditas sangat bergantung pada kesiapan sarana.
“Balai Yasa Lahat menjadi penggerak di balik layar yang memastikan rangkaian angkutan barang, termasuk batu bara, beroperasi tepat waktu dan aman. Pada saat yang sama, layanan penumpang juga ditopang oleh sistem perawatan yang disiplin dan terukur,” jelasnya.
Dalam menjalankan operasionalnya, Balai Yasa Lahat menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 serta 35 prosedur Sistem Manajemen Keselamatan dan 183 Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko. Seluruh proses terdokumentasi melalui SOP, check sheet, serta pengawasan komite keselamatan dan sistem tanggap darurat sehingga kualitas pekerjaan tetap terjaga.
Transformasi digital turut memperkuat kinerja Balai Yasa Lahat. Pada 2023, unit ini mengembangkan aplikasi SIMPRO berbasis web untuk meningkatkan akurasi perencanaan dan optimalisasi pengadaan suku cadang. Inovasi tersebut meraih predikat Platinum pada ajang TKMPN 2023. Pada 2025, pengembangan alat uji internal “Monster Aligator” untuk pengujian motor starter dan alternator charger meningkatkan presisi pemeriksaan sarana traksi listrik dan mengantarkan Balai Yasa ini meraih Peringkat 1 Indonesia Innovation Award (IIA) serta Diamond Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) 2025.
“Penguatan Balai Yasa Lahat merupakan bagian dari strategi KAI dalam membangun sistem perawatan modern yang presisi dan berbasis data. Setiap sarana yang beroperasi di Sumatera Selatan mencerminkan komitmen KAI dalam menghadirkan layanan yang andal dan berstandar tinggi,” tutup Anne.
Melalui Balai Yasa Lahat, KAI memastikan perjalanan kereta api barang dan penumpang di Sumatera Selatan ditopang oleh sistem perawatan yang terukur dan terintegrasi, sekaligus menjaga kelancaran distribusi komoditas strategis bagi perekonomian nasional.

