TEHERAN, IRAN – Eskalasi konflik di Timur Tengah memunculkan sorotan terhadap efektivitas sistem pertahanan udara Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk Persia. Sejumlah serangan balasan Iran dilaporkan menembus perlindungan tersebut, memicu pertanyaan atas kemampuan Washington melindungi sekutu-sekutunya. Media resmi Iran melalui saluran Telegram Nour menyatakan negara-negara Arab tidak lagi dapat bergantung pada payung keamanan AS yang dinilai lebih memprioritaskan kepentingan Israel.
Peringatan ini muncul setelah serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan koalisi AS-Israel akhir pekan lalu.
Konflik yang meletus sejak Sabtu itu telah menewaskan ratusan orang, termasuk sedikitnya 555 korban jiwa di Iran menurut laporan Palang Merah. Serangan AS dan Israel memicu respons langsung dari Teheran yang menargetkan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk dan Yordania. Iran menegaskan bahwa serangan balasan tersebut tidak ditujukan kepada negara tuan rumah, melainkan fasilitas militer AS.
Kegagalan sistem pertahanan udara AS dalam menghadang serangan itu menjadi sorotan, memperlihatkan kerentanan sekutu Arab yang berada di bawah perlindungan Washington.
Dalam komentar berjudul “Pelajaran Perang dan Masa Depan Keamanan Arab di Teluk Persia” yang dipublikasikan di saluran Nour, media tersebut menyebut kehadiran militer AS justru menjadi beban bagi negara-negara Teluk. “Kehadiran sistem canggih dan pasukan AS di Teluk Persia bukanlah jaminan keamanan nasional negara tuan rumah,” demikian isi pernyataan tersebut.
Nour juga menilai Washington bertindak semata-mata demi kepentingannya sendiri dengan mengorbankan stabilitas kawasan. “Keputusan AS untuk memulai serangan terhadap Iran menunjukkan bahwa kepentingan dan keamanan Israel lebih diprioritaskan daripada menjaga keamanan negara-negara Arab di Teluk Persia,” tulisnya.
Akibatnya, negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS disebut menghadapi risiko tinggi. “Negara-negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terpapar risiko dan keamanan mereka tidak terjamin,” lanjut pernyataan tersebut, seraya menyerukan agar negara-negara itu belajar dari insiden ini.
Tak hanya mengkritik, Nour juga mendorong solusi alternatif. Media itu mendesak negara-negara Arab untuk membangun “keamanan berkelanjutan berdasarkan kepentingan bersama” agar tidak lagi dikorbankan demi kepentingan strategis asing. Pendekatan tersebut dinilai krusial untuk menghindari ketergantungan pada kekuatan eksternal yang dianggap tidak andal dalam krisis.
Di tengah memanasnya situasi, pejabat tinggi Iran menyampaikan pernyataan tegas. Kepala keamanan nasional Iran, Ali Larijani, pada Senin memperingatkan bahwa Teheran siap menghadapi konflik berkepanjangan. Dalam unggahan di platform X, ia menyatakan bahwa Iran telah mempersiapkan diri untuk perang panjang dan menegaskan negaranya tidak memulai agresi.
“Seperti dalam 300 tahun terakhir, Iran tidak memulai perang ini dan Angkatan Bersenjata kami tidak terlibat dalam serangan apa pun kecuali untuk membela diri,” ujarnya. Ia juga menegaskan komitmen Iran untuk mempertahankan warisan peradabannya, seraya menyatakan bahwa negaranya akan membela diri tanpa mempedulikan konsekuensi.
Konflik ini bermula dari serangan udara koalisi AS-Israel pada Sabtu yang menargetkan Ayatollah Ali Khamenei dan menewaskannya. Respons Iran berupa serangan terhadap pangkalan udara AS di kawasan tersebut memperburuk situasi, dengan jumlah korban sipil dan militer terus bertambah. Data awal Palang Merah menunjukkan korban tewas di Iran mencapai ratusan, sementara kerugian di pihak lain belum sepenuhnya terkonfirmasi.
Analis keamanan regional menilai peringatan Iran sebagai bentuk diplomasi tidak langsung untuk merenggangkan aliansi AS dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, yang selama ini menjadi basis militer utama Washington. Kegagalan sistem pertahanan udara AS dalam mencegah serangan balasan Iran dinilai memperkuat narasi bahwa kehadiran militer AS lebih berisiko daripada memberi perlindungan.