JAKARTA – Kata-kata yang sering digunakan Gen Z untuk menyindir, menggambarkan situasi, atau sekadar bercanda itu kini tercatat sebagai bagian dari khazanah bahasa Indonesia yang tercatat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa secara berkala memutakhirkan KBBI untuk menangkap dinamika bahasa yang hidup di masyarakat, termasuk istilah informal yang sudah digunakan secara luas. Berikut empat kosakata yang kini resmi tercantum dalam KBBI dan banyak diperbincangkan karena nuansa kekiniannya:
1. Kelirumologi (ke.li.ru.mo.lo.gi)
Kata ini didefinisikan sebagai cara berpikir atau penjelasan yang salah kaprah, tetapi sering dianggap benar, biasanya digunakan sebagai sindiran terhadap kekeliruan logika atau pemahaman.
Istilah ini kerap digunakan untuk menyindir argumen yang terdengar masuk akal, tetapi sebenarnya keliru, misalnya dalam diskusi publik atau ketika membahas mitos yang viral di media sosial.
2. Asbun (as.bun)
Singkatan dari asal bunyi, istilah ini merujuk pada perilaku asal berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
Di media sosial, kata ini sering muncul di kolom komentar atau siaran langsung ketika seseorang dianggap berbicara sembarangan tanpa dasar. Kini, “asbun” resmi tercatat dalam KBBI dan dapat digunakan sebagai bentuk kritik secara lebih halus.
3. Mereviu (me.re.vi.u)
Kata kerja yang memiliki dua makna utama:
- Melihat (mempelajari, mengulas) kembali
- Meninjau; memeriksa
Istilah ini populer di kalangan kreator konten atau pengulas yang mengatakan akan “mereviu” sesuatu, artinya mengulas ulang atau memeriksa kembali suatu hal. Kini kata tersebut dapat digunakan dalam konteks formal tanpa terasa janggal.
4. Tunasmara (tu.na.as.ma.ra)
Kata sifat dengan dua pengertian:
- Tidak berhasrat untuk menjalin hubungan asmara
- Sulit menjalin hubungan asmara
Sebagai alternatif yang lebih netral dan sopan dibandingkan istilah “jomlo”, kata “tunasmara” dapat menggambarkan seseorang yang memilih untuk tetap sendiri atau memang kesulitan menjalin hubungan asmara.
Masuknya kata-kata tersebut ke dalam KBBI menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bersifat dinamis, inklusif, dan responsif terhadap perkembangan penggunaan bahasa di masyarakat.
Tak sedikit warganet yang awalnya terkejut mengetahui kata seperti “asbun” tercatat secara resmi dalam KBBI. Namun, banyak pula yang merasa bangga karena istilah yang populer di kalangan anak muda kini diakui sebagai bagian dari bahasa Indonesia.
Dengan tambahan kosakata ini, generasi muda pun bisa lebih percaya diri menggunakan istilah yang akrab dalam keseharian mereka, bahkan dalam tulisan formal atau akademik—tentu dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya.