BAGHDAD, IRAK– Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan ikut serta dalam setiap tindakan militer di Selat Hormuz dan kawasan Teluk, di tengah meningkatnya ketegangan pasca serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran akhir Februari lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan al-Sudani dalam wawancara dengan surat kabar Italia Corriere della Sera, seraya menegaskan komitmen Baghdad pada pendekatan diplomatik dan menolak solusi bersenjata.
“Kami tidak percaya pada solusi militer. Kami tidak akan ikut serta dalam peperangan di Teluk,” ujar al-Sudani, seperti dikutip, Kamis (26/3/2026).
Perdana Menteri Irak itu menggarisbawahi sejumlah alasan di balik keputusan pemerintahannya. Menurutnya, upaya memberikan perlindungan bersenjata bagi kapal-kapal di jalur perairan strategis itu justru akan memicu reaksi dari Iran dan tidak berkontribusi positif terhadap keselamatan navigasi.
Selain itu, ketidakstabilan di Selat Hormuz dinilainya telah berdampak berat pada ekonomi Irak yang sangat bergantung pada ekspor minyak. Al-Sudani juga kembali menegaskan posisi Irak sebagai mediator potensial, mengingat negaranya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Iran di satu sisi, serta hubungan penting dan strategis dengan Amerika Serikat di sisi lain.
Pernyataan keras itu muncul di tengah eskalasi kawasan menyusul serangan gabungan AS dan Israel terhadap target-target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu aksi balasan Iran terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Sebagai respons, Amerika Serikat kemudian memanggil negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang giat mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pada 19 Maret, enam negara menyatakan kesediaan untuk berkontribusi dalam upaya pengamanan tersebut. Namun, Irak dengan tegas memilih untuk tidak bergabung dalam koalisi militer apa pun, dengan alasan tidak ingin wilayahnya menjadi medan pertempuran bagi pihak lain.



