JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan penguatan terbatas dalam perdagangan Kamis, 26 Maret 2026, di tengah sentimen global yang mulai membaik akibat perkembangan geopolitik terbaru.
Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan rupiah sejak awal sesi langsung berada di zona hijau, mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap isu internasional yang berkembang.
Memasuki penutupan sesi pertama, rupiah tercatat berada di level Rp16.898 per dolar AS, menguat sebesar 12,20 basis poin atau sekitar 0,07 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Penguatan ini terjadi di tengah kondisi mayoritas mata uang Asia Pasifik yang justru tertekan oleh dolar AS, sehingga rupiah termasuk dalam kelompok terbatas yang mampu bertahan di jalur positif.
Hingga siang hari, hanya yen Jepang dan dolar Australia yang turut mencatat penguatan tipis masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,03 persen terhadap dolar AS.
Sebaliknya, tekanan cukup signifikan dialami sejumlah mata uang kawasan, dengan ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,76 persen, diikuti baht Thailand turun 0,32 persen, won Korea Selatan melemah 0,28 persen, serta peso Filipina terkoreksi 0,19 persen.
Selain itu, rupee India tercatat turun 0,11 persen, dolar Singapura melemah 0,08 persen, dan yuan China terkoreksi tipis sebesar 0,02 persen.
Analis melihat penguatan rupiah tidak lepas dari sentimen positif global setelah Amerika Serikat mengajukan inisiatif perdamaian kepada Iran yang selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan geopolitik dunia.
“Hari ini nilai tukar rupiah berpeluang terapresiasi ke Rp16.890 per dolar AS,” kata Analis Pasar Uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C.Permana, Kamis, 26 Maret 2026.
Menurut Fikri, optimisme pasar meningkat seiring munculnya harapan meredanya konflik di Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump mengirimkan 15 poin proposal perdamaian kepada Iran.
Di sisi lain, pemerintah Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan akan menelaah proposal tersebut meskipun belum membuka ruang dialog langsung dengan Amerika Serikat.
“Tidak ada rencana negosiasi langsung dengan AS,” kata Menlu Iran, Abbas Araghchi.
Upaya diplomasi ini dinilai berpotensi meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini memicu volatilitas harga energi global, terutama minyak mentah.
Jika stabilitas harga energi terjaga, tekanan inflasi global berpotensi menurun sehingga memberikan ruang lebih besar bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
“Stabilitas harga harga minyak akan membuka ruang penurunan risiko inflasi global,” ucap Fikri.
Kondisi tersebut juga diperkirakan mampu mendorong kembalinya aliran modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, baik melalui instrumen saham maupun surat berharga.
Masuknya dana asing berpotensi memperkuat posisi rupiah dalam jangka pendek sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat berada di level 99,62 pada perdagangan hari ini, masih menunjukkan penguatan dibandingkan posisi sehari sebelumnya.***