BEIJING, CHINA — Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, melakukan kunjungan resmi ke China untuk membahas eskalasi geopolitik terbaru, termasuk dampak rencana blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran global terhadap jalur energi dan perdagangan internasional.
Kunjungan Lavrov ke Beijing pada Selasa (14/4) menjadi pertemuan pertamanya tahun ini dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Agenda pembicaraan difokuskan pada dinamika hubungan internasional yang kian memanas, terutama akibat konflik di Timur Tengah dan kebijakan Washington terhadap Iran.
Dalam pernyataan pembuka, Lavrov menyoroti tekanan besar terhadap tatanan global saat ini.
“Saya sepenuhnya setuju bahwa dasar hubungan internasional saat ini sedang diuji dengan sangat serius,” kata Lavrov.
Ia juga menyinggung ketidakstabilan yang meluas di berbagai kawasan.
“Kita hanya perlu melihat apa yang terjadi di awal tahun di Amerika Latin, di Venezuela, dan apa yang terjadi sekarang di Timur Tengah,” ujarnya.
China Kritik Blokade AS
Pemerintah China secara terbuka menyatakan kekhawatiran atas langkah Amerika Serikat yang meningkatkan kehadiran militer dan merencanakan blokade di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sebagian besar distribusi energi dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menilai kebijakan tersebut berisiko memperburuk situasi.
“AS meningkatkan pengerahan militer dan melakukan tindakan blokade yang ditargetkan, yang hanya akan memperburuk ketegangan, dan melemahkan perjanjian gencatan senjata yang sudah rapuh serta kian membahayakan keamanan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz,” kata Guo.
“Ini tindakan berbahaya dan tak bertanggung jawab.”
China juga menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur internasional strategis yang krusial bagi distribusi energi global. Stabilitas kawasan, menurut Beijing, menjadi kepentingan bersama komunitas internasional.
“Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer. Untuk menyelesaikan masalah ini, konflik harus dihentikan sesegera mungkin,” ujar Guo.
Beijing turut menyerukan semua pihak menahan diri dan berkomitmen menjaga stabilitas rantai pasok energi global.
Dampak Global dan Kepentingan Energi
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu chokepoint energi terpenting dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Bahkan, laporan terbaru menunjukkan kapal tanker tetap mencoba melintas meski blokade diberlakukan, menandakan kompleksitas situasi di lapangan serta potensi eskalasi lebih lanjut.
China sendiri sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut, sehingga stabilitas Selat Hormuz menjadi kepentingan strategis bagi Beijing.
Negosiasi Gagal, Konflik Memanas
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz menyusul gagalnya perundingan dengan Iran di Pakistan. Washington menuntut Teheran menghentikan program nuklirnya dan menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
Namun Iran menolak tuntutan tersebut dan bersikukuh mempertahankan hak pengayaan uranium, sekaligus menegaskan kontrolnya atas wilayah strategis tersebut.
Blokade ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan, melibatkan serangan militer intensif oleh AS dan sekutunya terhadap Iran. Situasi ini telah menyebabkan gangguan signifikan terhadap jalur pelayaran dan meningkatkan risiko krisis energi global.
Rusia–China Perkuat Koordinasi
Di tengah meningkatnya tekanan geopolitik, pertemuan Lavrov dan Wang Yi menandai upaya koordinasi antara Rusia dan China dalam merespons kebijakan AS di Timur Tengah.
Kedua negara diketahui sama-sama mengkritik langkah Washington dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Kunjungan ini juga mencerminkan konsolidasi posisi dua kekuatan besar tersebut dalam menghadapi ketegangan global yang kian kompleks, khususnya terkait keamanan energi dan stabilitas kawasan.