JAKARTA — Pelecehan seksual verbal kerap terjadi di lingkungan sekitar, bahkan tanpa disadari oleh pelakunya.
Banyak orang menganggap candaan atau komentar bernada seksual sebagai hal yang wajar, padahal tindakan tersebut dapat menyakiti dan merugikan orang lain secara emosional.
Dilansir dari Halodoc, berikut lima candaan yang harus ditinggalkan karena termasuk pelecehan seksual verbal.
1. Siulan dan Godaan di Jalan
Catcalling merupakan fenomena yang masih kerap dijumpai di tengah masyarakat.
Menggoda, bercanda, atau melontarkan pertanyaan bernuansa seksual yang tidak diinginkan dapat membuat lawan bicara merasa tidak nyaman.
Contohnya, komentar seperti “Habis keramas, nih? Semalem main apa, nih?” atau “Habis digarap berapa kali sama suami? Capek banget pasti.” termasuk dalam kategori ini.
2. Bercanda dengan Cara Mempermalukan
Candaan yang mengarah pada perendahan jenis kelamin tertentu juga berpotensi menyinggung dan merujuk pada seksisme.
Komentar seperti “Laki-laki kok lemah, laki-laki harusnya kuat dan tahan banting!” atau “Perempuan baiknya di rumah saja, masak, mencuci, sama bersih-bersih, tidak perlu kerja kantoran,” adalah contoh nyata dari bentuk pelecehan ini.
3. Mengolok-olok Tubuh dan Penampilan
Mengomentari fisik atau penampilan seseorang dengan nada menghina adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
Dampaknya, korban bisa merasa malu dan kehilangan rasa percaya diri.
Mirisnya, fenomena ini masih kerap terjadi di lingkungan formal seperti sekolah dan perkantoran.
Salah satu contohnya adalah komentar seperti “Coba kamu diet! Lihat badan kamu sudah membesar!”.
4. Menyebarkan Konten Bernuansa Seksual Lewat Pesan
Di era digital, tindakan mengirimkan lelucon atau gambar bernuansa seksual melalui media komunikasi semakin marak terjadi.
Banyak korban merasa terganggu atas kiriman semacam itu, terlebih jika dilakukan oleh orang yang tidak dikenal.
Tindakan ini termasuk kekerasan seksual dan patut diwaspadai.
Cara Menghadapi Pelecehan Seksual Verbal
Dilansir Klikdokter, berikut delapan tips menghadapi pelecehan seksual verbal.
1. Kenali Contoh Pelecehan Verbal
Memahami jenis-jenis pelecehan verbal membantu seseorang menyadari apakah dirinya sedang atau pernah menjadi korban.
Bentuk pelecehan verbal dapat berupa panggilan nama tertentu, ejekan, sarkasme, hingga kritikan pedas yang dilontarkan untuk mengendalikan dan merugikan seseorang secara emosional.
2. Hindari Pelaku
Menghindari atau mengurangi interaksi dengan pelaku adalah langkah penting agar korban tidak terus-menerus berada dalam tekanan.
Mengisi waktu dengan aktivitas menyenangkan bersama orang-orang yang bersikap positif dapat membantu menjaga kondisi emosional tetap stabil.
3. Bersikap Tegas
Jika situasi memungkinkan, utarakan ketidaknyamanan secara tegas di hadapan pelaku.
Namun, jika respons tersebut dikhawatirkan membahayakan diri, sampaikan dengan cara yang tetap tegas namun tidak memancing eskalasi.
Jelaskan dengan jelas apa yang menyakiti dan mengapa tindakan tersebut tidak dapat diterima.
4. Hindari Membalas dengan Cara Serupa
Dorongan untuk membalas mungkin muncul, tetapi tindakan tersebut justru bisa berbalik merugikan diri sendiri karena pelaku dapat menuduh balik korban.
Menahan amarah dan tidak membalas pelecehan adalah pilihan yang lebih bijak.
5. Jaga Ketenangan dan Kendalikan Emosi
Emosi yang meluap hanya akan memperburuk situasi. Menarik napas dalam-dalam dapat membantu pikiran menjadi lebih jernih.
Menurut Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog, jika sudah tidak mampu tenang, lebih baik menjauh dari situasi tersebut untuk meminimalkan kondisi yang memburuk.
“Kalau kita sudah merasa tidak sanggup, kita boleh menjauh dulu dari situasi tersebut dan mencari tempat yang aman.”
“Bicarakan lagi lain waktu dengan menyatakan waktu yang clear (misalnya nanti malam) saat suasana sudah tenang,” paparnya.
6. Bangun Batasan yang Jelas dalam Hubungan Sosial
Menetapkan batasan pribadi beserta konsekuensinya merupakan langkah perlindungan diri yang penting.
Jelaskan kepada pelaku apa yang tidak dapat diterima dan apa yang akan terjadi jika batas tersebut dilanggar.
7. Konsisten Menjalankan Batasan yang Telah Ditetapkan
Batasan yang telah ditetapkan tidak akan berarti jika tidak diikuti dengan ketegasan.
Jika sudah memutuskan untuk meninggalkan pelaku saat dilecehkan, laksanakan keputusan tersebut meski pelaku berusaha menahan.
Ketegasan ini penting agar korban tidak diremehkan.
8. Ceritakan ke Orang yang Terpercaya
Pelecehan verbal memang sulit dibuktikan, apalagi jika tidak ada saksi.
Meski begitu, menceritakan pengalaman tersebut kepada orang terdekat yang dipercaya sangat dianjurkan guna mendapatkan dukungan.
Psikolog Gracia juga menyarankan agar korban tidak ragu meminta bantuan dari pihak lain apabila merasa sudah tidak mampu menangani situasi tersebut sendiri.
Jangan Ragu Bersuara
Itulah bentuk-bentuk pelecehan verbal yang masih sering dilakukan di kehidupan sosial.
Candaan-candaan tersebut tidak boleh dibiasakan dan harus segera ditinggal untuk kenyamanan dan keamanan bersama.
Bila menghadapi candaan melecehkan tersebut, jangan ragu untuk bersuara dan bercerita ke orang yang terpercaya. (FB)