KAMERUN – Hari kelima kunjungan apostolik Paus Leo XIV di Afrika ditandai dengan pesan kuat mengenai krisis kelaparan global yang mendesak untuk segera ditangani secara kolektif oleh seluruh umat manusia.
Dalam Misa akbar, Sabtu (18/4/2026) waktu setempat yang dihadiri sekitar 120 ribu umat di Douala, pemimpin Gereja Katolik itu menyoroti realitas pahit yang dihadapi jutaan warga Kamerun yang masih bergulat dengan kemiskinan dan kekurangan pangan.
Mengacu pada data kemanusiaan terbaru, hampir 40 persen populasi Kamerun hidup di bawah garis kemiskinan, sementara jutaan lainnya mengalami kelaparan, menjadikan isu ini sebagai perhatian utama dalam agenda kunjungannya.
Dalam homilinya, Paus mengangkat kisah Injil tentang mukjizat lima roti dan dua ikan sebagai refleksi mendalam atas pentingnya solidaritas dan kepedulian sosial.
Ia menegaskan bahwa kelaparan bukan semata persoalan kekurangan sumber daya, melainkan kegagalan manusia dalam berbagi secara adil.
“Selalu ada cukup untuk semua orang jika setiap orang mau berbagi,” ujar Paus dikutip dari Vatican News, Minggu (19/4/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa tindakan mengambil dengan keserakahan hanya akan memperparah ketimpangan, sementara memberi dengan tulus dapat menjadi solusi nyata bagi krisis pangan.
Usai memimpin Misa, Paus melanjutkan agenda dengan mengunjungi sebuah rumah sakit Katolik secara tertutup sebelum bertolak ke ibu kota Yaoundé.
Di sana, ia menyampaikan pidato penting di Catholic University of Central Africa mengenai peran pendidikan tinggi dalam membentuk masa depan yang lebih manusiawi.
Menurutnya, universitas harus menjadi ruang untuk membangun kesadaran kritis, bukan sekadar tempat mengejar prestasi akademik.
Ia menyoroti fenomena meningkatnya individualisme dan dangkalnya cara berpikir di era modern yang perlu diimbangi dengan refleksi mendalam dan nilai kemanusiaan.
Dalam kesempatan tersebut, Paus memperkenalkan konsep “kegelisahan suci” atau holy restlessness sebagai dorongan moral untuk terus mencari kebenaran dan keadilan.
Ia menilai bahwa generasi muda perlu memiliki kegelisahan yang positif agar tidak terjebak dalam kenyamanan semu.
Paus juga kembali menyinggung dampak perkembangan kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi cara manusia berpikir dan bertindak.
Ia menegaskan pentingnya studi humaniora untuk memahami dinamika kekuasaan, bias, dan kepentingan ekonomi yang tersembunyi di balik teknologi tersebut.
Agenda hari itu ditutup dengan pertemuan bersama para pemimpin komunitas religius di Kamerun yang aktif dalam berbagai misi kemanusiaan.
Mereka melaporkan keterlibatan dalam membantu kaum muda, pengungsi, korban kekerasan, hingga perdagangan manusia yang masih menjadi persoalan serius di kawasan tersebut.
Menanggapi hal itu, Paus menekankan bahwa kehidupan religius menuntut keberanian luar biasa untuk menghadapi persoalan kompleks dunia modern.
“Dibutuhkan keberanian radikal untuk membawa harapan dan kasih Tuhan kepada mereka yang paling membutuhkan,” tegasnya dalam pertemuan tersebut.
Kunjungan ini mempertegas komitmen Vatikan dalam mendorong solidaritas global sekaligus menempatkan isu kelaparan sebagai tantangan kemanusiaan yang tidak bisa ditunda. ***