WASHINGTON, AS – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan bahwa segala kegagalan dalam perundingan nuklir antara Washington dan Teheran akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Iran. Pernyataan keras ini disampaikan di tengah optimisme Presiden Donald Trump yang mengklaim kesepakatan damai sudah hampir tercapai.
Dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi India Today pada Minggu (24/5/2026), Rubio menepis kemungkinan AS atau sekutu Teluknya yang akan disalahkan jika diplomasi gagal.
“Jika upaya ini tidak berhasil, itu bukan kesalahan AS atau sekutu kami di Teluk. Itu akan menjadi 100 persen kesalahan Iran,” kata Rubio secara tegas.
Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran “pada dasarnya telah disetujui”. Presiden AS itu menambahkan bahwa timnya masih membahas rincian akhir yang akan segera diumumkan kepada publik.
Ancaman Kembalinya Konflik Bersenjata
Ketika ditanya apakah kegagalan perundingan bisa memicu kembalinya operasi militer seperti **Operasi Epic Fury**, Rubio menjawab bahwa Trump telah memberikan garis merah yang jelas.
“Presiden Trump telah menegaskan akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujarnya.
Pernyataan ini mengingatkan kembali pada eskalasi dramatis yang terjadi beberapa bulan lalu. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap berbagai target di Iran, termasuk fasilitas di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan signifikan dan menelan korban jiwa di kalangan sipil.
Iran membalas dengan meluncurkan serangan balik terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Ketegangan sempat mereda setelah kedua pihak mengumumkan gencatan senjata pada 7 April 2026. Namun, upaya lanjutan untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik di Islamabad berakhir tanpa hasil konkret.
Dinamika Diplomasi yang Rapuh
Posisi Rubio yang tegas ini menunjukkan adanya dua narasi berbeda di kubu Washington. Di satu sisi, Trump berusaha menampilkan citra sebagai pemimpin yang berhasil membawa perdamaian. Di sisi lain, Rubio menyiapkan narasi bahwa pintu perang tetap terbuka lebar jika Iran dianggap tidak kooperatif.
Analis hubungan internasional melihat pernyataan Rubio sebagai upaya untuk menekan Teheran agar lebih fleksibel dalam perundingan berikutnya. Dengan menegaskan bahwa “100 persen kesalahan Iran”, AS berusaha mengalihkan tanggung jawab dan membangun dukungan internasional jika eskalasi kembali terjadi.
Sementara itu, masyarakat internasional memantau perkembangan ini dengan cemas. Kawasan Teluk yang selama ini menjadi pusat ketegangan geopolitik berisiko kembali memanas. Harga minyak dunia yang sempat stabil pasca-gencatan senjata berpotensi melonjak jika perundingan benar-benar gagal.
Apa yang Dipertaruhkan?
Isu utama dalam perundingan ini adalah program nuklir Iran yang dituduh AS dan sekutunya sebagai upaya pengembangan senjata pemusnah massal. Iran berulang kali membantah tuduhan tersebut dan menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai dan energi.
Kegagalan diplomasi kali ini bukan hanya akan memengaruhi stabilitas Timur Tengah, tetapi juga bisa mengganggu keseimbangan kekuatan global. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang merupakan sekutu dekat AS turut menjadi sorotan, mengingat Rubio secara eksplisit menyebut mereka dalam pernyataannya.
Hingga berita ini ditulis, pihak Iran belum memberikan respons resmi terhadap pernyataan terbaru Marco Rubio. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan bahwa Teheran tetap terbuka untuk perundingan selama hak-hak kedaulatannya dihormati, termasuk hak untuk pengembangan teknologi nuklir sipil.