Setelah sempat viral karena kemampuannya “menghuni” setiap ruko kosong, Mixue kini mulai mengerem ambisinya. Dalam laporan keuangan terbaru, perusahaan mengungkapkan telah menutup sebanyak 428 gerai internasional sepanjang tahun lalu. Indonesia dan Vietnam, dua pasar terbesar Mixue di luar China, menjadi wilayah yang paling terdampak dari kebijakan efisiensi ini.
Melansir VN Express, Jumat (24/4/2026), langkah ini diambil bukan karena kehilangan peminat, melainkan untuk mengoptimalkan operasional gerai yang ada agar pertumbuhan bisnis lebih stabil dan berkelanjutan.
Dari Gerai Kecil ke Outlet Raksasa
Di Vietnam, Mixue mulai mengubah taktik. Jika dulu mereka hobi membuka gerai-gerai mungil di gang, kini mereka beralih ke format outlet yang lebih besar di lokasi strategis. Gerai baru kini dirancang dengan area persiapan yang lebih luas dan posisi yang langsung menghadap ke jalan utama demi menggaet lebih banyak konsumen.
Strategi harga murah tetap menjadi senjata utama. Dengan mengendalikan rantai pasok secara mandiri—mulai dari produksi bahan baku hingga logistik—Mixue tetap mampu merajai segmen minuman terjangkau meski jumlah gerainya sedikit menyusut.
Menariknya, meski menutup ratusan gerai, kantong Mixue justru semakin tebal. Sepanjang tahun lalu, pendapatan perusahaan melonjak 35% menjadi 33,56 miliar yuan (sekitar US$4,9 miliar). Laba bersihnya pun ikut terkerek naik 33% menjadi 5,93 miliar yuan.
Sambil membenahi pasar Asia Tenggara, Mixue tetap melirik wilayah baru. Mereka tercatat mulai merambah Amerika Serikat dan Kazakhstan. Tak hanya itu, di Malaysia dan Thailand, mereka mulai memperkenalkan merek berbeda bertajuk Lucky Cup.
Hingga akhir tahun lalu, total gerai Mixue di seluruh dunia mencapai angka fantastis: 59.823 unit. Dengan penguatan jaringan mitra waralaba dan restrukturisasi operasional, si “Snow King” tampaknya sedang bersiap untuk melompat lebih tinggi lagi setelah fase bersih-bersih ini.


