Sebuah drama “kucing-kucingan” di samudra luas kembali memanas. Sebuah kapal tanker raksasa asal Iran dilaporkan berhasil melakukan aksi infiltrasi yang memukau: lolos dari kepungan blokade laut Amerika Serikat (AS) dan kini tengah berlayar di jantung perairan Indonesia.
Bukan sembarang kapal, VLCC (Very Large Crude Carrier) milik National Iranian Tanker Company (NITC) ini membawa muatan fantastis. Kapal tersebut mengangkut lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah dengan nilai estimasi mencapai US$220 juta atau setara Rp3,8 triliun.
Menghilang di Balik “Sinyal Hantu”
Lembaga pemantau maritim, TankerTrackers, menyebut kapal yang diidentifikasi sebagai HUGE (IMO: 9357183) ini sukses mengelabui pengawasan ketat Angkatan Laut AS. Strategi yang digunakan cukup berisiko: kapal tersebut mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) alias “menghilang” dari radar sejak 20 Maret saat meninggalkan Selat Malaka.
Setelah sempat terlacak terakhir kali di lepas pantai Sri Lanka sepekan lalu, data terbaru menunjukkan sang raksasa kini tengah melintasi Selat Lombok dan bergerak lurus menuju Kepulauan Riau.
Kontradiksi Klaim Gedung Putih
Kehadiran kapal HUGE di perairan Nusantara seolah menjadi tamparan bagi klaim Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, Washington menyatakan telah menguasai penuh Selat Hormuz dan menyebut blokade ekonomi terhadap Iran berjalan “sangat sukses”.
Namun, realita di lapangan berbicara lain. Media pemerintah Iran mengeklaim sedikitnya 52 kapal, termasuk 31 tanker minyak, berhasil menembus barikade Amerika hanya dalam waktu 72 jam. Di sisi lain, militer AS berkeras bahwa mereka telah mencegat sedikitnya 41 kapal terkait Iran sejak blokade diberlakukan pada 13 April lalu.
Blokade ini merupakan bagian dari upaya strategis AS untuk mencekik ekonomi Iran, terutama di Selat Hormuz—jalur nadi yang mengalirkan 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia. Namun, keberhasilan kapal HUGE mencapai “Timur Jauh” membuktikan bahwa perang urat syaraf di jalur perdagangan energi global ini masih jauh dari kata usai.
Kini, perhatian tertuju pada pergerakan kapal raksasa tersebut saat memasuki wilayah perairan strategis Indonesia.