JAKARTA – Gelombang kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah mulai menekan stabilitas ekonomi negara-negara Asia Tenggara. Lonjakan biaya energi kini berubah menjadi ancaman inflasi kawasan, memaksa bank-bank sentral ASEAN bersiap memasuki fase baru pengetatan suku bunga.
Setelah lebih dari dua bulan pasar global diguncang krisis pasokan energi, tekanan harga mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi. Kenaikan ongkos transportasi, logistik, produksi industri, hingga harga pangan memicu kekhawatiran inflasi berkepanjangan di kawasan yang selama ini sangat sensitif terhadap gejolak energi.
Harga minyak yang masih bertahan di atas US$100 per barel dinilai menjadi titik kritis baru bagi ekonomi ASEAN. Bloomberg Economics memperkirakan jika harga energi tidak kunjung turun hingga pertengahan tahun, hampir seluruh bank sentral di kawasan akan dipaksa menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.
Situasi itu menghadirkan dilema besar bagi otoritas moneter. Di satu sisi inflasi harus dikendalikan, namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi ASEAN sejak awal 2026 sudah mulai melemah.
Filipina dan Singapura Bergerak Lebih Dulu
Respons paling agresif datang dari Filipina. Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,5 persen pada April 2026 dari sebelumnya 4,25 persen.
Langkah itu diambil setelah peso terus melemah dan inflasi bergerak di atas target pemerintah. BSP memperkirakan inflasi Filipina mencapai 6,3 persen pada 2026 dan 4,3 persen pada 2027.
“BSP memilih bertindak cepat untuk menjaga ekspektasi inflasi dan mencegah efek lanjutan,” demikian proyeksi Bloomberg Economics terkait langkah bank sentral Filipina.
Bloomberg Economics memperkirakan BSP masih akan menaikkan suku bunga hingga total 175 basis poin sepanjang tahun ini jika tekanan energi global belum mereda.
Singapura juga mulai memperketat kebijakan moneternya. Monetary Authority of Singapore (MAS) memperkirakan inflasi inti dan inflasi utama tahun ini berada di kisaran 1,5-2,5 persen, lebih tinggi dibanding proyeksi sebelum lonjakan harga minyak terjadi.
Singapore Overnight Rate Average (SORA) kini berada di kisaran 1,31-1,41 persen. Namun tekanan inflasi diperkirakan masih meningkat sehingga MAS disebut berpotensi kembali memperketat kebijakan nilai tukar pada Juli dan Oktober 2026.
Thailand dan Malaysia Mulai Tertekan
Berbeda dengan Filipina dan Singapura, Bank of Thailand (BoT) sebelumnya masih memilih memangkas suku bunga sebelum konflik Iran memanas.
Inflasi Thailand yang sempat rendah memberi ruang bagi BoT untuk lebih berhati-hati. Namun situasi mulai berubah seiring melonjaknya harga energi global.
Inflasi Thailand kini diproyeksikan naik menjadi 2,9 persen dari sebelumnya hanya 0,3 persen. Bloomberg Economics memperkirakan BoT akan kembali menaikkan suku bunga hingga 75 basis poin tahun ini.
Sementara itu, Bank Negara Malaysia (BNM) masih mempertahankan suku bunga di level 2,75 persen. Inflasi Malaysia sejauh ini relatif rendah, yakni 1,7 persen secara tahunan pada Maret 2026.
Malaysia juga masih diuntungkan oleh tingginya pendapatan negara dari sektor minyak sehingga pemerintah memiliki ruang menjaga subsidi energi untuk menahan dampak kenaikan harga domestik.
Meski demikian, tekanan inflasi tetap membayangi. Permintaan domestik yang tinggi serta pertumbuhan investasi berbasis AI dan ekspor elektronik dinilai dapat mempercepat kenaikan harga di dalam negeri.
Bloomberg Economics memperkirakan BNM mulai menaikkan suku bunga pada Juli dengan total kenaikan mencapai 50 basis poin hingga akhir tahun.
Di tengah tekanan regional, Indonesia disebut sebagai salah satu negara ASEAN yang paling rentan menghadapi lonjakan inflasi energi.
Saat ini inflasi domestik memang masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5-3,5 persen. Namun kondisi tersebut diprediksi mulai berubah dalam beberapa bulan mendatang.
Lonjakan harga minyak global diperkirakan mendorong inflasi Indonesia melampaui target mulai Juni atau Juli 2026.
Tekanan eksternal juga diperparah oleh pelemahan rupiah. Ketidakpastian global akibat konflik Iran membuat investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor global, pasar juga dibayangi sejumlah risiko domestik mulai dari kekhawatiran fiskal hingga ancaman penurunan peringkat dari lembaga internasional seperti MSCI, Moody’s, dan Fitch.
Akibat tekanan tersebut, rupiah sepanjang Mei telah melemah 0,61 persen. Secara year to date, nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi 4,41 persen.
Pelemahan mata uang membuat biaya impor energi dan pangan semakin mahal sehingga risiko imported inflation makin besar.
“Jika inflasi bertahan di atas target, BI kemungkinan mulai mengetatkan kebijakan pada September, terutama jika harga minyak tetap tinggi,” tulis Bloomberg Economics.
Lembaga tersebut memperkirakan BI Rate dapat naik total 125 basis poin hingga mencapai 6 persen pada kuartal I 2027 dari posisi saat ini sebesar 4,75 persen.
Ancaman Perlambatan Ekonomi Mengintai
Kenaikan suku bunga memang menjadi instrumen utama bank sentral untuk meredam inflasi. Namun kebijakan itu juga membawa risiko baru terhadap pertumbuhan ekonomi.
Biaya kredit yang lebih mahal berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, investasi, hingga ekspansi dunia usaha. Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi negara-negara ASEAN yang ekonominya mulai kehilangan momentum sejak awal tahun.
Meski demikian, jika harga minyak terus bertahan tinggi dan inflasi semakin sulit dikendalikan, bank sentral di kawasan diperkirakan tidak memiliki banyak pilihan selain kembali memperketat kebijakan moneternya.
ASEAN kini menghadapi ancaman ganda: inflasi yang melonjak dan pertumbuhan ekonomi yang melambat secara bersamaan.