Ancaman pandemi baru membayangi dunia setelah strain langka dan mematikan dari virus Ebola dilaporkan merebak hebat di benua Afrika. Berdasarkan data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), wabah dari strain Bundibugyo (BVD) ini telah memicu 220 kematian dan 900 kasus suspek di Republik Demokratik Kongo (DRC) hanya dalam waktu dua minggu sejak dideklarasikan pada 15 Mei lalu.
Wabah mematikan ini kini telah melompati batas negara dan menyusup ke Uganda, dengan rincian lima kasus terkonfirmasi dan satu korban jiwa. Merespons situasi kritis ini, WHO langsung menaikkan status penilaian risiko di Kongo menjadi “Sangat Tinggi” di tingkat nasional.
Isolasi Total di Pusat Wabah: Penerbangan Jalur Udara Diputus
Guna memutus rantai penyebaran sebelum terlambat, pemerintah negara-negara Afrika yang terdampak langsung mengambil tindakan ekstrem:
-
Republik Demokratik Kongo (DRC): Kementerian Transportasi Kongo resmi menghentikan total seluruh penerbangan komersial dari dan menuju wilayah Bunia—pusat zona merah penularan di DRC timur. Hanya penerbangan medis dan misi kemanusiaan darurat yang diizinkan mengudara secara ketat.
-
Uganda: Memperlakukan pembatasan wilayah (lockdown) parsial dengan menyetop seluruh penerbangan langsung dari Kongo. Akses perbatasan darat dan air menggunakan bus atau kapal dibekukan selama empat minggu, termasuk pembubaran pasar-pasar mingguan di perbatasan.
Barikade Perbatasan Dunia: Pengusiran WNA hingga Karantina Ketat
Meski WHO menyatakan risiko global masih terpantau rendah, kepanikan internasional tidak terbendung. Gelombang larangan terbang dan penutupan pintu masuk internasional diberlakukan secara agresif oleh berbagai negara di luar Afrika:
1. Amerika Serikat (Paling Agresif)
Pemerintahan Donald Trump memberlakukan aturan ekstrem dengan melarang seluruh WNA, termasuk pemegang Green Card (kartu izin tinggal tetap), yang memiliki riwayat perjalanan ke Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir untuk menginjakkan kaki di AS.
Warga negara AS yang pulang dari wilayah tersebut dipaksa mendarat di tiga bandara khusus dengan pengawasan super-ketat:
-
Bandara Internasional Washington Dulles (IAD)
-
Bandara Internasional Atlanta Hartsfield-Jackson (ATL)
-
Bandara Internasional George Bush (IAH) Houston
Wall Street Journal melaporkan pemerintah AS bahkan menerjunkan tim medis khusus ke Kenya untuk membangun fasilitas karantina raksasa bagi warga Amerika yang terpapar di sana.
2. Kanada & Bahama
Kanada memblokir kedatangan pelancong dari zona merah Afrika selama 90 hari. Warga negara Kanada yang pulang dari sana diwajibkan menjalani karantina wajib selama 21 hari per 30 Mei 2026, tanpa memandang apakah mereka sehat atau bergejala. Langkah serupa diambil Bahama dengan menutup perbatasan selama 30 hari.
3. Timur Tengah & Asia
-
Yordania & Bahrain: Kompak menangguhkan visa dan hak masuk bagi siapa pun yang datang dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan.
-
Thailand: Menyaring ketat turis Afrika dan hanya mengizinkan mereka mendarat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok setelah lolos tes usap (swab) negatif di tempat.
India Batalkan KTT Internasional demi Keamanan
India mengambil langkah preventif paling radikal dengan meningkatkan pemeriksaan di seluruh bandara utama mereka. Demi menghindari risiko kontaminasi, New Delhi resmi menunda pelaksanaan KTT India-Afrika yang sedianya digelar minggu ini.
Tak hanya itu, India juga membatalkan pertemuan Aliansi Kucing Besar Internasional (International Big Cat Alliance), sebuah organisasi konservasi global yang dipimpin India bersama 95 negara, mengingat sebagian besar delegasi penting yang diundang berasal dari wilayah benua Afrika.
Hingga saat ini, sistem pengawasan ketat berhasil menahan laju virus. Belum ditemukan satu pun kasus positif Ebola strain Bundibugyo ini di luar wilayah Afrika.