JAKARTA – Seorang pemandu asal Nepal, Dawa Sherpa, ditemukan selamat setelah enam hari tidak diketahui keberadaannya di Gunung Everest. Ia mengaku mampu bertahan hidup dengan “mengunyah es” dan memakan cokelat yang tersisa di sakunya.
Sherpa menegaskan dirinya tidak “hilang”, melainkan terpaksa “bertahan” setelah kehabisan oksigen di ketinggian. Sebelumnya, ia bahkan sempat diasumsikan meninggal dunia, hingga keluarganya di Kathmandu mulai melakukan ritual terakhir. Namun, ia akhirnya ditemukan tim pendaki saat merayap turun menuju base camp.
“Saya tidak berpikir saya akan tetap hidup,” katanya kepada BBC Nepali pada Jumat, yang dilansir Minggu (7/6/2026). “Saya pikir saya akan mati.”
Pendaki Chris Thrall adalah orang terakhir yang melihat Sherpa sebelum ia ditemukan dekat Khumbu Icefall. Thrall menggambarkan Sherpa duduk di ranselnya di atas Camp 3, sekitar 7.500 meter, sebelum perhatian Thrall beralih membantu seorang pendaki Polandia yang mengalami radang dingin.
Sherpa menceritakan bahwa ia sempat jatuh ke dalam celah es dan terjebak selama dua setengah hari. Longsoran salju yang menimbun celah itu justru memberinya pijakan untuk keluar. “Dengan menginjak salju, saya berdiri dan melihat ke atas… Rasanya saya bisa keluar dari sana,” ujarnya.
Setelah keluar, ia menemukan tali yang membantunya turun, meski sempat dihadang longsoran lain. Ia berjalan sepanjang malam hingga akhirnya bertemu pendaki lain yang sedang mengumpulkan sampah di dekat base camp.
Kabar selamatnya Sherpa disambut dengan keterkejutan dan kegembiraan oleh komunitas pendaki serta keluarganya. “Dawa berhasil bertahan hidup melawan segala rintangan selama berhari-hari. Ini benar-benar seperti keajaiban,” kata Pemba Sherpa dari 8K Expeditions.
Istrinya, Damu Sherpa, mengaku sempat kehilangan harapan setelah diberitahu operasi penyelamatan tidak mungkin dilakukan. “Saya tidak percaya dengan mata saya tentang bagaimana ia kembali dengan selamat,” ujarnya.
Kini, Sherpa dirawat di Rumah Sakit HAMS Kathmandu akibat dehidrasi, radang dingin, dan tulang retak. Kondisinya dilaporkan stabil. Musim pendakian tahun ini sendiri telah menelan korban lima orang, menambah daftar panjang lebih dari 300 pendaki yang meninggal sejak 1920-an.