BEIRUT, LEBANON – Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas setelah militer Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan pada Sabtu (13/6/2026). Serangan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa upaya gencatan senjata yang telah beberapa kali diupayakan kedua pihak semakin kehilangan efektivitas di tengah eskalasi yang terus berlanjut.
Media pemerintah Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan bahwa jet tempur Israel menggempur sejumlah lokasi di wilayah selatan negara itu, termasuk desa Rihan dan Sujud yang berada di sekitar kawasan Nabatieh. Serangan terjadi hanya beberapa jam setelah Israel mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga sipil yang tinggal di sejumlah kota dan desa di wilayah tersebut.
Langkah Israel memerintahkan evakuasi massal memperlihatkan skala operasi militer yang dipersiapkan. Sedikitnya 20 kota dan desa di Lebanon selatan masuk dalam daftar wilayah yang diminta segera dikosongkan oleh penduduk.
Juru bicara militer Israel untuk media Arab, Avichay Adraee, menyampaikan peringatan tersebut melalui akun media sosial X. Dalam pesannya, ia meminta warga segera meninggalkan daerah yang dianggap berisiko menjadi target operasi militer.
“Demi keselamatan Anda, Anda harus segera mengungsi dari rumah Anda dan pindah ke utara Sungai Zahrani,” kata Avichay Adraee.
Israel mengklaim bahwa sejumlah wilayah yang menjadi sasaran operasi digunakan oleh Hizbullah untuk kepentingan militer. Karena itu, menurut Tel Aviv, keberadaan warga sipil di sekitar lokasi tersebut berpotensi membahayakan keselamatan mereka sendiri.
“Siapa pun yang berada di sekitar instalasi atau sarana perang Hizbullah membahayakan nyawa mereka,” tambah Adraee.
Nabatieh Kembali Jadi Titik Panas Konflik
Nabatieh dan wilayah sekitarnya selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu episentrum pertempuran antara Israel dan Hizbullah. Kawasan ini memiliki posisi strategis karena berada di jantung wilayah selatan Lebanon yang selama ini dikenal sebagai basis pengaruh kelompok tersebut.
Serangan terbaru memperlihatkan bahwa Israel masih mempertahankan strategi tekanan militer terhadap infrastruktur yang diduga berkaitan dengan Hizbullah. Di sisi lain, kelompok yang didukung Iran itu terus menolak berbagai syarat yang diajukan dalam upaya penghentian konflik.
Situasi di lapangan semakin kompleks karena serangan dan aksi balasan terus terjadi meski beberapa kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan dalam beberapa bulan terakhir.
Gencatan Senjata Berulang Kali Gagal
Konflik Israel-Hizbullah memasuki babak baru sejak awal Maret ketika kelompok tersebut meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Hizbullah menyatakan aksi tersebut dilakukan sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan yang dituduhkan melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Sejak saat itu, kawasan perbatasan Lebanon-Israel berubah menjadi medan pertempuran yang semakin meluas. Israel merespons dengan kampanye serangan udara intensif yang kemudian berkembang menjadi operasi darat di sejumlah wilayah Lebanon.
Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 3.700 orang dilaporkan tewas sejak konflik meningkat. Angka tersebut mencerminkan besarnya dampak kemanusiaan yang ditimbulkan oleh perang yang terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda.
Upaya diplomatik yang dilakukan berbagai pihak sejauh ini belum mampu menghentikan pertempuran. Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu dilaporkan berkali-kali dilanggar oleh kedua pihak.
Harapan baru sempat muncul setelah putaran keempat negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel di Washington, Amerika Serikat, menghasilkan kesepakatan gencatan senjata bersyarat pada bulan ini. Namun, implementasi kesepakatan tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Hizbullah Tolak Kesepakatan Bersyarat
Salah satu titik utama kebuntuan berada pada isi kesepakatan yang ditawarkan dalam perundingan. Hizbullah menolak menerima perjanjian yang mewajibkan mereka menghentikan serangan, sementara tidak terdapat kewajiban yang sama bagi Israel.
Kelompok itu juga menyoroti tidak adanya klausul yang secara tegas mewajibkan Israel menarik pasukannya dari wilayah Lebanon. Bagi Hizbullah, syarat tersebut dianggap tidak seimbang dan hanya menguntungkan pihak Israel.
Penolakan tersebut membuat proses perdamaian kembali menemui jalan buntu. Akibatnya, operasi militer dan serangan lintas perbatasan terus berlangsung, memperbesar risiko konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Ancaman Eskalasi Regional
Serangan terbaru di Lebanon selatan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan. Keterlibatan Iran sebagai pendukung utama Hizbullah membuat setiap perkembangan konflik berpotensi memicu dampak yang lebih besar terhadap stabilitas regional.
Pengamat menilai gagalnya berbagai kesepakatan gencatan senjata menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi tantangan berat. Selama kedua pihak tetap mempertahankan posisi masing-masing dan belum mencapai kesepahaman mengenai syarat penghentian perang, kemungkinan terjadinya eskalasi lanjutan masih sangat terbuka.
Dengan kembali berkobarnya pertempuran di Lebanon selatan, harapan terciptanya perdamaian jangka pendek di perbatasan Israel-Lebanon kini semakin menjauh. Konflik yang telah menelan ribuan korban itu pun berisiko memasuki fase yang lebih berbahaya dalam waktu dekat.