JAKARTA – Warga Nabatieh, Lebanon selatan, meratapi korban perang dalam prosesi keagamaan Asyura yang digelar di jalanan kosong dengan bangunan hancur.
Iring-iringan pelayat melewati puing-puing sambil berterika, “Inilah tragedi Karbala, wahai Imam Hussein, lihatlah. Inilah tragedi Karbala.” Ratapan mereka bergema di tengah dentuman artileri di kaki bukit kota.
Asyura, peringatan pembunuhan Imam Hussein pada 680, biasanya menjadi kebanggaan Nabatieh dengan kehadiran hingga 30.000 orang. Namun tahun ini, maknanya semakin dalam karena perang Hizbullah–Israel yang menewaskan lebih dari 3.900 orang di Lebanon, mayoritas Muslim Syiah. Kota Nabatieh sendiri menjadi salah satu wilayah paling parah dibombardir, membuat sebagian besar dari 80.000 penduduknya mengungsi.
Meski gencatan senjata diumumkan awal pekan oleh AS dan Iran, pertempuran tetap berlanjut. Israel melancarkan serangan udara di sekitar Nabatieh pada Jumat (19/6/2026), menewaskan 18 orang dan melukai 33 lainnya. “Kami menginginkan gencatan senjata yang sesungguhnya. Kami memutuskan merayakan Ashura di Nabatieh agar orang-orang punya alasan untuk kembali,” kata Mehdi Sadek, kepala layanan ambulans setempat, dilansir The Guardian.
Poster para martir Hizbullah menghiasi jalanan, sementara tim pertahanan sipil membersihkan puing dan menarik jenazah dari reruntuhan. “Tahun ini Ashura memiliki makna khusus bagi kami. Kami telah menghayati pertempuran Karbala setiap hari selama perang ini,” ujar Ismail Yaghi, seorang warga.
Namun suasana tetap muram. Drone Israel berputar di atas kota, dan suara artileri terus terdengar. Kepala pertahanan sipil regional, Hussein Fakih, menutup wawancara dengan mata berkaca-kaca setelah menerima kabar rumahnya dihancurkan. “Di Nabatieh, situasinya masih sama; bahkan lebih sulit. Belum jelas apakah ada gencatan senjata atau tidak,” katanya.