JATIM– Di bawah terik matahari yang menyengat di kawasan Pantai Pasir Putih, Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah, Aldi Avianto (29) tampak sibuk memeriksa kondisi tambak udang vaname. Bersama sejumlah rekannya, ia memastikan kualitas air tetap terjaga, menyiapkan pakan, hingga melakukan penyiponan sebagai bagian dari proses budidaya modern.
Pemandangan tersebut menjadi potret perubahan besar yang tengah berlangsung di Nusakambangan. Pulau yang selama ini identik dengan lembaga pemasyarakatan berkeamanan tinggi kini mulai bertransformasi menjadi salah satu pusat pengembangan ketahanan pangan nasional.
Di balik geliat industri budidaya udang vaname itu, terdapat kisah pembinaan warga binaan yang mulai menunjukkan hasil nyata.
Salah satunya adalah Aldi
Beberapa tahun lalu, ia masih menjalani masa pidana di dalam lapas. Kini, menjelang kebebasannya, Aldi justru menjadi bagian dari program produktif yang membuka peluang baru bagi masa depannya.
“Yang jelas senang. Lebih produktif, lebih banyak pengalaman, dan tambah relasi,” ujar Aldi saat ditemui di kawasan tambak Nusakambangan, Jumat (19/6/2026).
Belajar dari Nol hingga Menguasai Budidaya Udang
Menariknya, Aldi mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang di bidang perikanan sebelum mengikuti program asimilasi luar yang dijalankan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
Seluruh pengetahuan mengenai budidaya udang vaname diperolehnya melalui proses belajar langsung di lapangan.
“Saya belajar dari nol semua. Awalnya tidak punya dasar sama sekali,” katanya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembinaan keterampilan yang dirancang untuk membekali warga binaan dengan kemampuan kerja sebelum kembali ke tengah masyarakat.
Selama menjalani aktivitas di tambak, Aldi mempelajari berbagai aspek teknis budidaya, mulai dari manajemen pakan, pemeliharaan kualitas air, pengendalian kepadatan kolam, hingga proses panen.
Pengetahuan itu diperoleh melalui pendampingan praktis yang dilakukan oleh tenaga teknis dan vendor pengelola tambak.
“Dari vendor biasanya memberi arahan, lalu kami yang langsung mengerjakan. Jadi banyak belajar sambil praktik,” ungkapnya.
Model pembelajaran berbasis praktik tersebut dinilai efektif karena memungkinkan warga binaan memahami langsung proses produksi yang digunakan dalam industri budidaya udang modern.
Menjalani Pembinaan Berjenjang di Nusakambangan
Perjalanan Aldi hingga bisa bekerja di area tambak tidak terjadi secara instan. Ia terlebih dahulu menjalani proses pembinaan berjenjang sesuai sistem pemasyarakatan yang diterapkan pemerintah.
Sebelum dipindahkan ke Nusakambangan, Aldi menjalani hukuman selama lima tahun di Lembaga Pemasyarakatan Semarang.
Setelah itu, ia ditempatkan di sejumlah lapas di Nusakambangan dengan tingkat pengamanan yang berbeda.
“Di Nusakambangan sudah tiga tahun. Saya pernah di Karanganyar sekitar setahun, kemudian di Lapas Narkotika satu setengah tahun, dan sekarang di Permisan,” tuturnya.
Menurut Aldi, perpindahan tersebut menjadi bagian dari evaluasi perilaku dan tingkat kepercayaan yang diberikan kepada warga binaan.
“Dari super maximum, maximum, sampai medium,” jelasnya.
Saat ini, setelah enam bulan berada di Lapas Permisan dan mendekati masa bebas yang dijadwalkan pada 5 Agustus 2026, ia memperoleh kesempatan mengikuti program asimilasi luar melalui kegiatan budidaya udang.
Kesempatan itu tidak diberikan kepada seluruh warga binaan. Ada sejumlah persyaratan dan penilaian yang harus dipenuhi.
“Yang bisa bekerja di luar biasanya yang sudah mendekati pengurusan dan pulang,” katanya.
Mengelola Tambak Modern di Nusakambangan
Setiap hari, Aldi memulai aktivitas sejak pukul 06.00 WIB. Berbagai pekerjaan teknis menjadi bagian dari rutinitasnya, mulai dari pemberian pakan, pemantauan kondisi kolam, hingga perawatan lingkungan tambak.
Ia juga memahami pentingnya menjaga kepadatan populasi udang agar produktivitas tetap optimal.
Salah satu tahapan yang dipelajarinya adalah panen parsial, yaitu proses pengurangan sebagian populasi udang sebelum panen utama dilakukan.
“Kalau umur udang sudah sekitar 70 hari biasanya dilakukan panen parsial. Tidak semuanya dipanen karena kapasitas kolam sudah mulai padat. Kalau dipaksa terus, kolam bisa melebihi kapasitas,” jelas Aldi.
Pemahaman mengenai siklus produksi tersebut menjadi keterampilan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, mengingat sektor budidaya udang vaname merupakan salah satu industri perikanan yang terus berkembang di Indonesia.
Nusakambangan Tak Lagi Hanya Identik dengan Penjara
Kisah Aldi menjadi bagian dari transformasi yang sedang berlangsung di Pulau Nusakambangan.
Selama puluhan tahun, pulau ini dikenal sebagai lokasi berbagai lembaga pemasyarakatan dengan tingkat keamanan tinggi. Namun kini, kawasan tersebut mulai diarahkan menjadi pusat kegiatan produktif yang mendukung program ketahanan pangan nasional.
Salah satu proyek unggulan yang dikembangkan adalah tambak udang vaname seluas 32 hektare di kawasan Pantai Pasir Putih.
Program tersebut merupakan implementasi kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus menjalankan program pemberdayaan warga binaan melalui pelatihan keterampilan kerja.
Melalui kegiatan itu, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh pengalaman dan kompetensi yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.
Tawaran Kerja Menanti Setelah Bebas
Bagi Aldi, pengalaman di tambak udang bukan sekadar aktivitas selama menjalani masa pembinaan. Program tersebut telah membuka peluang baru yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Bahkan, ia mengaku telah mendapatkan tawaran pekerjaan dari pihak vendor yang terlibat dalam pengelolaan tambak udang di Nusakambangan.
Meski demikian, prioritas utamanya setelah bebas adalah kembali berkumpul dengan keluarga.
“Saya sudah ditawari. Tapi saya ingin pulang dulu, ketemu keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah itu, Aldi membuka kemungkinan untuk meniti karier di sektor budidaya udang yang kini telah dikenalnya dengan baik.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama menjalani program asimilasi dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik.
“Harapannya setelah keluar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Misalnya bekerja di perusahaan atau vendor udang, agar tidak mengulangi hal-hal yang dulu,” pungkasnya.
Transformasi yang dialami Aldi menunjukkan bahwa program pembinaan berbasis keterampilan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja terampil, tetapi juga membuka jalan bagi proses reintegrasi sosial. Dari balik tembok Nusakambangan, lahir harapan baru bahwa pembinaan yang tepat dapat mengubah masa lalu seseorang menjadi bekal untuk masa depan yang lebih produktif.