JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sepanjang perdagangan Kamis di tengah perhatian pelaku pasar terhadap arah suku bunga global.
Penguatan IHSG hari ini, Kamis (2/7/2026) menjadi sinyal membaiknya sentimen investor meski ketidakpastian ekonomi internasional masih membayangi.
Di dalam negeri, data inflasi dan neraca perdagangan turut menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 14,72 poin atau 0,26 persen ke level 5.709,84.
Indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 2,57 poin atau 0,46 persen menjadi 559,32.
Menjelang penutupan sesi pertama, IHSG semakin menguat hingga menyentuh 5.797,45 atau naik 102,34 poin setara 1,80 persen.
LQ45 turut memperpanjang kenaikan ke posisi 570,98 dengan penguatan sekitar 2,56 persen.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penguatan masih berpotensi terbatas.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 5.320- 5.735.”
“Potensi koreksi masih berpotensi terjadi, tetap hati-hati,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Pelaku pasar global juga mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat melalui pernyataan pejabat bank sentral.
Dalam forum perbankan European Central Bank, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan tekanan inflasi mulai mereda.
Warsh menegaskan target inflasi tetap berada di kisaran 2 persen sebagai sasaran utama kebijakan moneter.
Ia juga menyebut ekspektasi inflasi selama empat pekan terakhir mengalami penurunan sehingga kondisi dinilai semakin stabil.
Tidak adanya kenaikan suku bunga acuan membuat imbal hasil obligasi bergerak turun sehingga memberi ruang positif bagi pasar.
The Fed menilai lonjakan inflasi sebelumnya hanya bersifat sementara dan mulai menunjukkan tren normalisasi.
“Harga energi dan bensin terus mengalami penurunan, karena ada kabar baik mengenai kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran,” ujar Nico.
Warsh kembali menegaskan independensi The Fed meski terdapat dorongan dari Presiden AS Donald Trump agar suku bunga diturunkan.
Ia mengisyaratkan arah kebijakan baru akan diterapkan tanpa menjelaskan rincian langkah tersebut.
“Proyeksi terbaru untuk tingkat suku bunga, dimana 18 pejabat memproyeksikan kenaikan tingkat suku bunga di tahun ini,” ujar Nico.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Juni 2026 sebesar 0,44 persen secara bulanan.
Inflasi tahun kalender mencapai 1,79 persen, sedangkan inflasi tahunan tercatat sebesar 3,34 persen.
Kenaikan inflasi dipicu faktor musiman, meningkatnya harga bahan baku, serta penyesuaian harga bahan bakar minyak.
BPS juga melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit 1,61 miliar dolar Amerika Serikat pada Mei 2026.
Defisit tersebut menjadi yang pertama dalam enam tahun terakhir setelah impor melampaui nilai ekspor nasional.
Nilai impor tercatat mencapai 24,81 miliar dolar Amerika Serikat, sedangkan ekspor sebesar 23,20 miliar dolar Amerika Serikat.
“Tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia mulai meningkat, terutama akibat perlambatan ekspor di tengah melemahnya permintaan global, serta penurunan harga sejumlah komoditas unggulan,” ujar Nico.
Meski demikian, tingginya impor dinilai masih mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi domestik.
Peningkatan impor bahan baku dan barang modal dipandang mampu menopang produksi serta investasi nasional.
Nico mengingatkan pelemahan ekspor yang berlangsung berkepanjangan dapat mengurangi surplus perdagangan Indonesia.
Surplus perdagangan selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar rupiah dan cadangan devisa.
“Meski demikian, karena secara kumulatif Januari-Mei 2026 neraca perdagangan masih mencatat surplus, dampak terhadap fundamental ekonomi Indonesia diperkirakan masih terbatas,” ujar Nico.
Di pasar global, bursa saham Eropa bergerak bervariasi pada perdagangan sebelumnya.
Sebagian indeks utama Eropa melemah, sementara indeks DAX Jerman berhasil ditutup di zona positif.
Pergerakan Wall Street juga berlangsung beragam dengan tekanan terbesar terjadi pada indeks Nasdaq Composite.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei menguat, sedangkan Shanghai dan Hang Seng bergerak melemah.
Sementara itu, indeks Strait Times mencatat kenaikan tipis mengikuti sentimen positif kawasan.***