JAKARTA – Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan operasi militer di kawasan Teluk.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengaku menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Operasi itu disebut menggunakan kombinasi rudal dan drone sebagai balasan atas serangan terbaru Washington.
Iran menyebut sasaran utama meliputi pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Mengutip laporan Reuters, Rabu, militer Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh drone pengintai MQ-9 milik Amerika Serikat.
Sirene serangan udara langsung berbunyi di Bahrain dan Kuwait setelah rudal dan drone terdeteksi memasuki wilayah udara.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya diaktifkan untuk menghadapi serangan tersebut.
Hingga laporan ini diterbitkan, militer Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi.
Sebelumnya Washington menggempur lebih dari 80 target militer di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan operasi itu menyasar aset strategis Garda Revolusi Iran.
Puluhan kapal cepat milik Garda Revolusi disebut ikut dihancurkan dalam operasi tersebut.
Washington menilai tindakan Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Amerika Serikat menegaskan kebebasan pelayaran internasional harus tetap dijaga.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut respons militer Amerika Serikat diperlukan.
Menurutnya pelanggaran gencatan senjata harus dijawab dengan tindakan tegas.
Di sisi lain Iran mengecam serangan Amerika Serikat sebagai agresi terang-terangan.
Komando Khatam al-Anbiya memperingatkan akan memberikan respons yang lebih keras.
Teheran juga menolak campur tangan Amerika Serikat dalam pengelolaan Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuduh Washington melanggar seluruh kerangka gencatan senjata.
Ia juga mengkritik pencabutan izin ekspor minyak Iran dan kebijakan sanksi terbaru.
Qalibaf menegaskan Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan Amerika Serikat.
Media Iran melaporkan ledakan terdengar di Pulau Kharg, Pulau Qeshm, Sirik, dan Bandar Abbas.
Pulau Kharg merupakan jalur utama ekspor minyak mentah Iran.
Pejabat Amerika Serikat menyebut sasaran serangan meliputi pertahanan udara dan peluncur rudal anti-kapal.
Lokasi peluncuran drone Iran juga menjadi target operasi tersebut.
Iran menyatakan tidak ada korban sipil meninggal akibat serangan itu.
Namun sejumlah warga dilaporkan terluka akibat serpihan proyektil di kawasan pelabuhan Sirik.
Dermaga nelayan di Sirik dan Bandar Abbas juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Situasi ini kembali mengancam kelangsungan gencatan senjata yang masih rapuh.
Kesepakatan tersebut sebelumnya menghentikan sementara konflik bersenjata antara kedua negara.
Washington juga mencabut izin sementara yang memperbolehkan Iran menjual minyak ke pasar internasional.
Kebijakan itu memicu kenaikan harga minyak dunia lebih dari tiga persen.
Lisensi yang sebelumnya berlaku hingga 21 Agustus kini dihentikan lebih awal.
Iran diberi waktu hingga 17 Juli untuk menghentikan transaksi yang masih berjalan.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keputusan tersebut sebagai pelanggaran kesepakatan.
Teheran menegaskan akan mengambil langkah yang dianggap perlu demi melindungi kepentingan nasional.
Qatar menuduh Iran berada di balik serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
Salah satu kapal LNG Qatar dilaporkan terbakar setelah terkena serangan drone.
Seluruh awak kapal berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi juga dilaporkan mengalami kerusakan di lepas pantai Oman.
Penyebab pasti insiden terhadap kapal tersebut masih diselidiki.
Iran membantah tuduhan menyerang kapal-kapal komersial.
Namun Teheran mengingatkan pelayaran di rute yang tidak dikoordinasikan tetap berisiko.
Pejabat Amerika Serikat menduga sedikitnya tiga kapal dagang menjadi sasaran serangan.
Analis menilai Selat Hormuz tetap menjadi alat tawar utama Iran dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
Ketegangan meningkat ketika pembicaraan damai tidak menghasilkan kemajuan berarti.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam melanjutkan pemboman jika Iran menolak mencapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan negosiasi tidak akan dimulai selama ancaman militer masih berlangsung.***