JAKARTA – Argentina kembali mencuri perhatian pada Piala Dunia 2026 dengan drama penuh ketegangan. Lionel Messi menjadi pusat sorotan setelah membawa Albiceleste lolos ke perempat final, meski perjalanan tim jauh dari mulus.
Mengutip The Guardian, Sabtu (11/7/2026), salah satu momen paling emosional terjadi di Atlanta ketika Messi berjalan dengan air mata di wajahnya. Beberapa menit sebelumnya, Argentina tertinggal dua gol dari Mesir dan sang kapten bahkan gagal mengeksekusi penalti. Namun, Messi bangkit dengan tiga gol dalam kurun waktu lebih dari 10 menit, memastikan Argentina melaju ke babak berikutnya.
Pelatih Lionel Scaloni pun tak kuasa menahan emosi. Para pemain Argentina bahkan menjulukinya el llorón atau “si tukang menangis.” “Aku tidak bisa bahkan melihatmu. Maaf. Aku jelas sangat emosional. Betapa luar biasanya kelompok pemain ini, saudaraku. Maaf. Sudah, aku harus pergi,” kata Scaloni seusai laga.
Meski lolos, performa Argentina dinilai masih jauh dari meyakinkan. Pertandingan melawan Cape Verde di babak 32 besar disebut berlangsung menegangkan, sementara Mesir bahkan sempat tampil lebih dominan pada babak 16 besar. Scaloni bersikeras timnya tetap mengendalikan jalannya laga, klaim yang dianggap sulit dipercaya oleh banyak pengamat.
Di luar lapangan, Argentina juga dibayangi kontroversi. Pelatih Mesir menuding laga telah diatur, sementara Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) tengah diselidiki FBI terkait dugaan penyalahgunaan perjanjian komersial di Amerika Serikat. AFA membantah tuduhan tersebut. “Langkah-langkah investigasi saja tidak menentukan tanggung jawab atau kesalahan,” tegas Tomas Regalado, duta besar AFA di Amerika Utara.
Scaloni juga menuai kritik atas strategi yang terlalu bergantung pada pemain senior. Messi sendiri terlihat kelelahan, bahkan muncul dengan lebam di dahi usai laga melawan Cape Verde. Namun, ia menanggapinya dengan santai, menyebut para pemain yang keras menekelnya justru paling bersemangat meminta kausnya setelah pertandingan.
Di tengah kritik dan tekanan, Scaloni menegaskan semangat juang tim tetap menjadi senjata utama. “Sepak bola adalah ini, bukan hanya taktik dan strategi. Hal-hal itu penting, tidak diragukan, tapi jika kami tidak memiliki hati yang kami miliki, kami akan sudah tersingkir,” ujarnya.