JAKARTA – Angkatan bersenjata Houthi yang didukung Iran mengumumkan larangan langsung terhadap navigasi maritim Arab Saudi pada Senin (20/7/2026).
Langkah ini disebut sebagai respons atas blokade dan serangan Riyadh terhadap wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman. “Kami menyatakan embargo maritim terhadap musuh Saudi yang kriminal, berdasarkan prinsip ‘mata ganti mata,’ yang berlaku segera setelah pernyataan ini dikeluarkan,” kata juru bicara militer Yahya Saree, dilansir Türkiyetoday.
Dalam pernyataan resmi, Houthi menegaskan blokade maritim penuh terhadap Arab Saudi dengan prinsip “blokade untuk blokade.” Kelompok itu juga menyerukan mobilisasi umum. “Kesalahan bodoh apa pun yang dilakukan musuh Saudi yang gegabah melalui eskalasi yang komprehensif, akan kita hadapi dengan eskalasi yang komprehensif dan keras,” tegas mereka.
Houthi menuduh Riyadh mempertahankan pembatasan di pelabuhan, bandara, dan perbatasan selama hampir 12 tahun, yang memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman. Mereka juga menuding Arab Saudi menjarah sumber daya negara dan menyebut blokade sebagai tindakan “tidak adil.” Penargetan Bandara Internasional Sana’a pekan lalu disebut sebagai bagian dari agresi berkelanjutan.
Pengumuman ini menimbulkan kekhawatiran baru atas keamanan Selat Bab el-Mandeb, jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Data Kpler menunjukkan aliran minyak melalui selat tersebut mencapai 7,4 juta barel per hari pada Juni, setara 7% produksi global, naik dari 4,2 juta barel tahun sebelumnya.
Arab Saudi sendiri telah mengalihkan lebih dari 70% ekspor minyak mentah ke terminal Laut Merah di Yanbu sejak krisis Hormuz memburuk. Gangguan berkepanjangan di Bab el-Mandeb akan mengancam jalur alternatif ekspor Teluk, dengan harga minyak Brent sempat naik hingga $88,6 per barel setelah pengumuman Houthi.