JAKARTA – Investasi biasanya identik dengan orang dewasa yang sudah memiliki penghasilan. Namun, tren berbeda muncul di Korea Selatan. Sejumlah orang tua mulai membuka rekening investasi atas nama anak sejak masih berusia sangat muda, bahkan ketika anak belum mengenal dunia keuangan.
Fenomena tersebut kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan mengenai meningkatnya rekening investasi milik anak di Korea Selatan. Orang tua memanfaatkan investasi sebagai bagian dari perencanaan aset sekaligus upaya menyiapkan masa depan anak sejak dini.
Menurut laporan ChosunBiz, jumlah rekening efek milik anak di bawah umur pada tiga perusahaan sekuritas Korea Selatan, yakni Korea Investment & Securities, Mirae Asset Securities, dan Shinhan Investment & Securities, mencapai 34.590 rekening pada Desember 2025. Angka tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan Januari 2025 yang berada di angka 11.873 rekening.
Bukan Sekadar Menabung untuk Anak
Fenomena investasi anak di Korea Selatan tidak hanya berkaitan dengan keinginan orang tua menabung. Ada pula faktor perencanaan kekayaan dan aturan pajak yang ikut mendorong tren tersebut.
Berdasarkan laporan Seoul Economic Daily, jumlah investor berusia di bawah 20 tahun di Korea Selatan telah mendekati 400.000 orang. Rekening atas nama anak tersebut umumnya digunakan orang tua untuk membeli saham sebagai investasi jangka panjang.
Salah satu alasan yang banyak diperhatikan adalah adanya batas pembebasan pajak atas pemberian aset kepada anak. Anak di bawah umur dapat menerima pemberian dari orang tua atau garis keturunan langsung hingga 20 juta won dalam periode 10 tahun tanpa dikenai pajak hadiah.
Dengan skema tersebut, sebagian orang tua memilih mengalokasikan dana untuk anak melalui rekening investasi. Harapannya, aset tersebut dapat berkembang dalam jangka panjang hingga anak beranjak dewasa.
Mirae Asset Securities bahkan memiliki program yang secara khusus menyasar nasabah anak di bawah umur. Dalam program investasi 2026, perusahaan tersebut menawarkan kegiatan menabung saham untuk nasabah berusia di bawah 19 tahun. Program itu juga menyebut rekening anak sebagai salah satu sarana untuk membangun kebiasaan investasi sejak dini.
Anak Jadi Investor, Orang Tua Tetap Pegang Kendali
Meski disebut sebagai investor cilik, bukan berarti bayi benar-benar melakukan transaksi saham sendiri. Pada praktiknya, keputusan investasi dan pengelolaan rekening masih berada dalam tanggung jawab orang tua atau wali sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, istilah “bayi punya saham” lebih tepat dipahami sebagai aset investasi yang ditempatkan atas nama anak. Orang tua berperan menyiapkan dana dan mengelola investasi tersebut untuk kepentingan masa depan anak.
Fenomena ini juga memunculkan perdebatan. Di satu sisi, investasi sejak dini dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa akses terhadap modal dan aset sejak kecil dapat semakin memperlebar kesenjangan kekayaan antargenerasi.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya asing dengan gagasan mengenalkan investasi kepada generasi muda. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi pasar modal di kalangan anak muda.
OJK mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai sekitar 26,7 juta investor per 5 Mei 2026. Sebanyak 54 persen investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia muda sudah menjadi bagian penting dari perkembangan pasar modal Indonesia.
Namun, tren investasi bayi seperti yang berkembang di Korea Selatan tentu tidak bisa langsung diterapkan begitu saja di Indonesia. Ada aturan pembukaan rekening, identitas nasabah, pengelolaan aset anak, serta ketentuan perpajakan yang perlu diperhatikan.
Karena itu, pesan yang bisa diambil bukanlah bahwa bayi Indonesia harus segera memiliki saham. Lebih penting, literasi keuangan dapat diperkenalkan kepada anak secara bertahap sesuai usia.
Anak yang masih kecil bisa mulai dikenalkan dengan konsep menabung dan membedakan kebutuhan serta keinginan. Ketika semakin besar, mereka dapat belajar mengenai investasi, risiko, keuntungan, hingga pentingnya memilih instrumen keuangan yang sesuai.
Jangan Cuma Ikut Tren
Tren bayi memiliki saham di Korea Selatan memang terdengar unik. Namun, investasi bukan sekadar soal membeli saham sedini mungkin.
Setiap investasi memiliki risiko dan tidak menjamin keuntungan. Orang tua juga perlu memahami instrumen yang dipilih sebelum menempatkan dana untuk kebutuhan jangka panjang anak.
Dengan demikian, Indonesia tidak harus meniru Korea Selatan secara mentah. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan melek finansial sejak dini.
Jika di Korea Selatan bayi bahkan sudah memiliki portofolio investasi, Indonesia setidaknya bisa memastikan generasi mudanya tidak tumbuh tanpa memahami cara mengelola uang. Sebab, mengenal investasi boleh dimulai sejak dini, tetapi memahami risikonya jauh lebih penting daripada sekadar ikut tren.


