Langkah awal dilakukan dengan mengakuisisi PBR, kemudian memindahkan klub tersebut ke Madura. AQ menyebut keputusan itu sengaja dirancang sebagai gebrakan untuk menarik perhatian publik terhadap Madura.
“Gebrakan pertama 2016, saya ambil PBR, kemudian saya pindahkan ke Madura, kemudian bikin sebuah kehebohan sehingga semua orang melihat ke Madura,” tuturnya, di Jakarta, Senin (24/8/2026).
Pemilihan nama Madura United juga menjadi bagian dari strategi tersebut. AQ ingin membangun identitas klub yang mudah dikenali dan mampu menarik perhatian masyarakat luas.
“Saya membuat nama yang eye-catching, membuat sebuah kehebohan yang fantastis,” ujar AQ.
Strategi itu kemudian diperkuat dengan mendatangkan sejumlah pemain ternama. Salah satunya adalah Peter Odemwingie yang bergabung dengan Madura United pada 2017.
Bagi AQ, kehadiran klub tidak berhenti pada urusan pertandingan di lapangan. Ia melihat sepak bola sebagai pintu masuk untuk mendatangkan lebih banyak orang ke Madura, yang pada akhirnya ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Saya berharap dia datang dan dia berbelanja ke Madura. Jadi dia tidak hanya noleh, dia datang ke Madura, dia berbelanja. Itulah yang terjadi. Suporter pada saat itu luar biasa datang ke Madura. Mereka berbelanja di Madura, beli teh dalam kemasan, beli rokok. Itulah ekonomi Madura muncul,” jelasnya.
Ia menyebut konsep tersebut sebagai strategi ekonomi yang sederhana: semakin banyak orang datang, semakin besar pula potensi transaksi yang terjadi di Madura.
“Konsep ekonomi saya sederhana. Perbanyak orang datang, perbanyak orang belanja. Mau teori apapun, bagi saya tidak peduli. Orang datang ke Madura, his spend the money.”
AQ menilai, kehadiran ribuan suporter pada saat pertandingan mampu menciptakan efek ekonomi secara langsung. Setiap orang yang datang berpotensi membelanjakan uang untuk berbagai kebutuhan selama berada di Madura.
Strategi branding klub yang dipadukan dengan misi ekonomi tersebut, menurut Achsanul, telah membuat Madura mulai mendapat perhatian publik secara nasional. Efek tersebut bahkan sudah terasa sebelum Madura United mencapai pencapaian penting pada 2019.
Dengan demikian, sejak awal Madura United tidak hanya diposisikan sebagai klub sepak bola, tetapi juga sebagai salah satu instrumen untuk memperkenalkan Madura kepada publik sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di daerah.


