JAKARTA – Kepindahan LeBron James ke Philadelphia 76ers menjadi salah satu cerita terbesar NBA menjelang musim 2026-27.
James memilih Philadelphia setelah memastikan perjalanan panjangnya bersama Los Angeles Lakers berakhir.
NBA mencatat keputusan tersebut sekaligus membuka musim ke-24 dalam karier pemain berjuluk The King tersebut.
Mengutip laporan The Sixer Sense, Minggu, situasi baru ini menarik karena komposisi 76ers dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan LeBron dibandingkan struktur Lakers musim lalu.
Salah satu persoalan yang kini kembali mencuat adalah ketidaknyamanan James ketika harus terlalu sering memberi ruang kepada Austin Reaves.
Menurut Law Murray dari The Athletic, James mengalami konflik internal terkait perannya di belakang Reaves.
“Selama meliput LeBron James musim lalu, dia mengalami konflik internal mengenai seberapa jauh harus memberi ruang kepada Austin Reaves.”
“LeBron tetap memahami bahwa Luka adalah pemain utama dalam situasi apa pun,” lanjut laporan tersebut.
Masalah tersebut muncul ketika Lakers memiliki tiga pemain dengan kebutuhan bola yang cukup besar.
Luka Doncic menjadi pusat serangan utama, sementara Reaves berkembang menjadi opsi penting dalam sistem permainan Los Angeles.
James akhirnya menjalani situasi yang berbeda dari sebagian besar kariernya karena harus menerima status sebagai opsi ketiga.
Statistik musim lalu menunjukkan Doncic mencatat rata-rata 33,5 poin dan 8,3 assist dalam 64 pertandingan.
Reaves juga tampil produktif dengan rata-rata 23,3 poin dan 5,5 assist dalam 51 pertandingan.
James sendiri tetap menghasilkan 20,9 poin, 7,2 assist dan 6,1 rebound dalam 60 pertandingan.
Kondisi Philadelphia menawarkan struktur yang berbeda karena sejumlah pemain utamanya sudah terbiasa berbagi peran dalam serangan.
Tyrese Maxey telah berkembang sebagai pencetak angka sekaligus playmaker yang efektif tanpa harus terus-menerus memegang bola.
Joel Embiid juga dapat mengambil peran sebagai pusat serangan melalui permainan post-up dan kemampuan mencetak angka dari berbagai area.
Sementara itu, Jaylen Brown datang sebagai bintang berpengalaman yang sebelumnya terbiasa berbagi panggung dengan Jayson Tatum di Boston.
Brown bergabung dengan Philadelphia setelah Celtics menukarnya dengan Paul George beserta sejumlah aset draft.
Situasi tersebut membuat 76ers memiliki banyak pencetak angka tanpa harus menjadikan semuanya sebagai pengendali utama permainan.
Maxey bahkan sudah terbiasa bermain bersama pemain yang dominan menguasai bola sejak awal kariernya.
Pengalamannya bersama Ben Simmons, Embiid dan James Harden membuat Maxey relatif familiar dengan pembagian tanggung jawab dalam serangan.
Karena itu, kehadiran James tidak harus menghilangkan peran Maxey sebagai pembawa bola utama.
Murray menilai Maxey tetap akan banyak membawa bola, sementara James dapat berbagi tugas sebagai kreator serangan tanpa harus menguasai bola secara berlebihan.
Struktur tersebut berpotensi membuat James lebih bebas memilih kapan harus menjadi pencetak angka dan kapan mengatur permainan.
Keberadaan Embiid dan Brown juga memberi Philadelphia beberapa opsi serangan ketika pertahanan lawan berusaha menutup jalur James.
Bagi James, kondisi tersebut dapat menciptakan lingkungan yang lebih fleksibel pada fase akhir kariernya.
Sebaliknya, 76ers mendapatkan pemain berpengalaman yang mampu membaca pertahanan dan menciptakan peluang bagi rekan setimnya.
Kedatangan James juga membuat Philadelphia memiliki salah satu kombinasi talenta paling menarik menjelang musim baru.
Brown, Maxey, Embiid dan James masing-masing mempunyai karakter permainan yang berbeda namun dapat saling melengkapi.
Tantangan terbesar Philadelphia bukan sekadar kualitas individu, melainkan bagaimana seluruh bintang tersebut membangun chemistry.
Dengan banyaknya pemain yang mampu mencetak angka, pembagian sentuhan dan keputusan pada momen penting akan menjadi faktor krusial.
Jika proses tersebut berjalan mulus, serangan 76ers berpotensi menjadi lebih sulit ditebak dibandingkan musim sebelumnya.
James pun berpeluang mendapatkan kembali peran sebagai pengatur ritme tanpa harus terus berhadapan dengan persoalan hierarki seperti yang muncul di Lakers.
Kepindahan ini pada akhirnya bukan hanya tentang LeBron mencari tim baru menjelang akhir kariernya.
Philadelphia juga sedang membangun skuad yang dirancang untuk mengejar gelar dengan kombinasi pengalaman, kemampuan mencetak angka dan fleksibilitas.
Dengan James sebagai salah satu kreator utama, 76ers memiliki alasan kuat untuk memasuki musim 2026-27 dengan ekspektasi tinggi.***



