Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia memastikan hingga saat ini belum menerima laporan mengenai adanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam bencana banjir bandang dahsyat di Nepal.
Juru Bicara 1 Kemlu, Yvonne Mewengkang, menyampaikan bahwa jajarannya terus berkoordinasi secara intensif dengan otoritas setempat guna memantau perkembangan situasi di lapangan.
“Hingga saat ini, dari upaya pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait setempat, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” tegas Yvonne dalam keterangan resminya, Minggu (30/8/2026).
Berdasarkan pemutakhiran data dari KBRI Dhaka, tercatat ada sekitar 45 WNI yang saat ini menetap di Nepal, di mana sebagian besar dari mereka berdomisili di ibu kota Kathmandu.
Imbauan Waspada dan Kontak Darurat
Menyikapi eskalasi bencana di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, Kemlu meminta seluruh WNI yang berada di wilayah tersebut maupun yang sedang melakukan perjalanan untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan.
WNI diimbau untuk:
-
Mematuhi seluruh petunjuk dan arahan dari otoritas keselamatan setempat.
-
Menjauhi area aliran sungai dan lokasi-lokasi rawan bencana.
-
Memantau perkembangan situasi secara berkala hanya melalui saluran informasi resmi.
“Dalam kondisi darurat, WNI diminta segera menghubungi saluran hotline resmi KBRI setempat untuk mendapatkan bantuan penanganan,” tambah Yvonne.
Update Bencana: Korban Jiwa Tembus 750 Orang
Situasi pascabencana di kawasan pegunungan Himalaya hingga Minggu (30/8/2026) dilaporkan masih sangat mencekam. Tim SAR gabungan di Nepal dan China terus berjibaku menembus endapan lumpur tebal dan ancaman luapan sungai susulan demi menyisir korban selamat.
Mengutip laporan Japan Times, dampak kerusakan dari bencana ini terus meluas. Sebanyak 3.044 orang masih dinyatakan hilang tanpa jejak. Total korban tewas terkonfirmasi telah menyentuh angka 750 jiwa. Sejumlah jenazah bahkan diduga kuat telah hanyut terbawa derasnya arus hingga ke wilayah India.
Hasil analisis dari Survei Geologi AS (USGS) mengonfirmasi bahwa petaka ini dipicu oleh fenomena runtuhnya gletser (glacial collapse) di kawasan dataran tinggi pada Rabu pagi. Peristiwa alam tersebut seketika melepaskan gelombang air bah raksasa yang membawa jutaan ton lumpur, bebatuan, dan puing-puing merusak ke area pemukiman di sepanjang lembah.



