KATHMANDU – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet, China, menewaskan sedikitnya 584 orang hingga Jumat.
Jumlah korban tersebut terdiri atas 579 orang yang meninggal di Nepal dan lima korban jiwa yang dilaporkan otoritas China dari wilayah Tibet.
Selain korban meninggal, sebanyak 2.482 orang masih dinyatakan hilang di kedua wilayah yang terdampak bencana tersebut.
7
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah memperkirakan sekitar 93.000 orang terdampak akibat bencana yang menghantam sejumlah kawasan perbatasan tersebut.
Besarnya kerusakan membuat proses pencarian dan pertolongan masih berlangsung, sementara jumlah korban diperkirakan dapat kembali meningkat.
“Akibat rusaknya jalan dan jembatan serta terputusnya jaringan seluler dan aliran listrik, kami belum dapat menjangkau beberapa wilayah yang paling parah terdampak.”
“Trauma akibat peristiwa ini sangat luar biasa,” ujar Kepala Delegasi Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah untuk Nepal, David Fisher.
Operasi Penyelamatan Terkendala
Kerusakan jalan, jembatan, jaringan komunikasi, dan pasokan listrik menjadi hambatan besar bagi petugas yang berupaya menjangkau kawasan terpencil.
Di wilayah Tibet, tim penyelamat China akhirnya mencapai salah satu titik utama yang mengalami kerusakan parah akibat longsor.
Tim tersebut terdiri atas enam personel dari Korps Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Tibet serta 15 anggota dari Korps Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sichuan.
Mereka tiba bersama seekor anjing pelacak dan disebut sebagai tim profesional pertama yang berhasil mencapai lokasi utama operasi penyelamatan.
Sementara itu, Nepal memperbarui data orang hilang menjadi 1.924 orang berdasarkan laporan otoritas penanggulangan bencana pada Jumat.
China juga melaporkan 558 orang masih belum ditemukan di kawasan terdampak berdasarkan data pejabat setempat.
Jika kedua data tersebut digabungkan, total orang yang masih hilang di wilayah Nepal dan Tibet mencapai 2.482 orang.
Warga Asing dan Pekerja PLTA Turut Hilang
Otoritas Nepal menyebut daftar orang hilang mencakup 517 warga negara asing yang berada di kawasan terdampak saat bencana terjadi.
Sebanyak 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air juga tercatat hilang setelah kawasan sungai mengalami banjir dan longsor.
Situasi semakin rumit setelah Nepal meminta masyarakat menjauh dari daerah rendah dan bergerak menuju lokasi yang lebih tinggi.
Peringatan tersebut dikeluarkan setelah muncul laporan mengenai dugaan jebolnya sebuah bendungan di wilayah Tibet.
China kemudian menghentikan sementara kegiatan penyelamatan setelah sebuah danau yang terbentuk dari timbunan material longsor dilaporkan mulai meluap.
Media pemerintah China selanjutnya menyatakan tingkat risiko danau tersebut telah “menurun” sehingga operasi penyelamatan dapat dilanjutkan secara teratur.
Namun, belum ada kepastian apakah danau yang dilaporkan meluap itu merupakan lokasi yang sama dengan bendungan yang disebut jebol oleh otoritas Nepal.
Jumlah Korban Masih Bisa Bertambah
Terputusnya akses menuju sejumlah daerah membuat proses pencarian korban belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
Kondisi geografis yang sulit ditambah rusaknya infrastruktur dan jaringan komunikasi juga menyulitkan petugas memperoleh data terbaru secara cepat.
Karena itu, angka korban meninggal maupun orang hilang masih berpotensi berubah seiring terbukanya akses menuju wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Bencana Nepal-Tibet ini kini menjadi salah satu operasi kemanusiaan besar di kawasan tersebut dengan ribuan orang masih menunggu kepastian nasib keluarganya.***



