JAKARTA — Jakarta menghadapi potensi dampak gempa bumi dari zona megathrust dan sejumlah sesar aktif di sekitarnya. Ancaman terbesar bukan hanya tsunami, tetapi juga guncangan kuat yang dapat memicu kerusakan bangunan dan bencana ikutan di tengah padatnya kawasan ibu kota.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, menjelaskan salah satu sumber ancaman berasal dari zona megathrust Selat Sunda. Pada skenario gempa maksimum, kawasan tersebut berpotensi menghasilkan gempa hingga magnitudo 8,9.
Energi gempa dari kawasan tersebut dapat berdampak hingga Jakarta. Bahkan, tsunami yang dipicu oleh gempa bawah laut di Selat Sunda diperkirakan masih dapat menjalar ke perairan ibu kota.
Meski demikian, ketinggian tsunami yang diperkirakan mencapai Jakarta relatif lebih rendah dibandingkan wilayah Banten dan pesisir selatan Jawa Barat.
“Nanti tsunami-nya bisa sampai ke Jakarta, tapi tsunami-nya tidak setinggi di wilayah Jawa Barat atau Banten. Tingginya di Jakarta itu kita prediksi hanya sekitar 0,5 meter,” ujar Wijayanto.
Dengan perkiraan tersebut, ancaman yang perlu menjadi perhatian di Jakarta justru berasal dari kekuatan guncangan di daratan. Intensitas gempa di ibu kota dalam skenario tersebut diperkirakan dapat mencapai 6 hingga 7 MMI (*Modified Mercalli Intensity*).
Guncangan pada tingkat tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap bangunan, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk dan konsentrasi infrastruktur tinggi. Dampaknya dapat berbeda-beda bergantung pada kondisi serta ketahanan masing-masing bangunan.
Risiko tidak berhenti pada kerusakan konstruksi. Gempa kuat juga dapat memunculkan bencana ikutan atau *collateral hazard*, antara lain kebakaran akibat kerusakan jaringan listrik maupun gas serta longsor di wilayah yang memiliki kondisi tanah rentan.
Ancaman terhadap Jakarta juga tidak semata-mata berasal dari zona megathrust di laut. Aktivitas sesar aktif di daratan yang berada di sekitar wilayah Jawa bagian barat turut menjadi perhatian.
Salah satunya adalah Sesar Cimandiri yang berada di wilayah Bogor dan sekitarnya. Jika sesar tersebut mengalami aktivitas yang menghasilkan gempa signifikan, getarannya juga berpotensi dirasakan dan menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.
“Itu juga kalau kejadian nanti bisa berpotensi akan menimbulkan sedikit kerusakan juga mungkin di wilayah-wilayah di Jawa, khususnya nanti di Jakarta yang padat penduduk juga bisa berpotensi menimbulkan kerusakan dari sesar aktifnya,” kata Wijayanto.
Potensi gempa megathrust sendiri tidak hanya menjadi perhatian untuk wilayah Jakarta. Pergeseran dasar laut akibat gempa bawah laut dengan kekuatan besar dapat memicu tsunami apabila memenuhi kondisi tertentu.
Selain Selat Sunda, zona Mentawai-Siberut juga menjadi salah satu kawasan megathrust yang diperhitungkan dalam mitigasi bencana. Gempa besar dari kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Bengkulu, serta kawasan lain di sekitar Samudra Hindia.
Di sisi lain, dampak gempa tidak selalu berkaitan dengan tsunami. Guncangan tanah yang kuat merupakan ancaman langsung yang dapat merusak bangunan, sarana publik dan infrastruktur apabila tidak mampu menahan beban gempa.
Karena itu, kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi gempa bumi. BMKG terus mengoperasikan sistem peringatan dini tsunami atau *Indonesia Tsunami Early Warning System* untuk mendeteksi potensi tsunami dan menyampaikan informasi kepada masyarakat secepat mungkin.
Sistem tersebut menjadi salah satu instrumen mitigasi untuk memperpendek waktu antara terjadinya gempa, analisis potensi tsunami, hingga penyampaian informasi kepada masyarakat di wilayah yang berisiko.
Dengan kondisi Jakarta yang padat penduduk dan memiliki konsentrasi bangunan serta infrastruktur tinggi, kesiapsiagaan terhadap gempa menjadi bagian penting dari upaya mengurangi dampak apabila bencana tersebut benar-benar terjadi.