Pemerintah Jepang menerbitkan peringatan darurat bencana tingkat tertinggi (Level 5) menyusul tumpahan rekor curah hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan ancaman tanah longsor di wilayah tengah Jepang. Cuaca ekstrem ini melumpuhkan total jaringan transportasi umum, mengisolasi ribuan komuter, serta merendam kawasan permukiman.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) merilis Peringatan Level 5 pada Selasa malam untuk kawasan di sepanjang aliran Sungai Shonai di Prefektur Aichi dan Gifu, termasuk Kota Nagoya. Peringatan darurat ini mencakup 14 kota besar dan kecil, yang mewajibkan seluruh warga untuk segera mengevakuasi diri ke lokasi teraman.
“Setiap warga wajib memastikan keselamatan diri dengan segera berpindah ke dataran yang lebih tinggi dan minim risiko terendam banjir,” tegas Kepala Prakirawan JMA, Takuya Hosomi, dalam konferensi pers darurat yang dikutip dari The Japan Times.
Rekor Hujan 104,5 mm per Jam: Lorong Bawah Tanah Jadi Zona Bahaya
JMA mencatat intensitas curah hujan yang sangat dahsyat di Nagoya, yakni mencapai 104,5 mm hanya dalam kurun waktu satu jam. Tingginya debit air membuat sistem drainase kota mengalami overload, hingga otoritas melarang keras warga beraktivitas di area bawah tanah.
Pusat perbelanjaan bawah tanah (underground mall), terowongan penyeberangan, hingga parkiran basement berisiko tinggi berubah menjadi jebakan air fatal secara mendadak.
Visual di media sosial memperlihatkan mobil-mobil melintasi jalan raya yang berubah menjadi aliran sungai deras dengan ketinggian air mencapai pintu kendaraan. Stasiun TV nasional NHK melaporkan sejumlah kendaraan terjebak di terowongan Minato Ward, Nagoya, namun seluruh pengemudi dilaporkan berhasil menyelamatkan diri.
Nagoya Deklarasikan Status Darurat Bencana Kota
Dampak kehancuran infrastruktur terus berlanjut hingga Rabu. Mengutip laporan The Mainichi, Pemerintah Kota Nagoya secara resmi mengaktifkan status tanggap darurat bencana kota (Citywide Disaster Relief) pasca-fenomena awan konvektif memanjang (linear rainband) melintas di atas wilayah Tokai.
Lumpuhnya transportasi publik memaksa ribuan pekerja dan pelajar tertahan dan terpaksa menginap di fasilitas umum.
Hingga Selasa malam, tercatat sedikitnya 1.600 warga telah dievakuasi di pusat-pusat pengungsian darurat, sementara ratusan kendaraan dilaporkan rusak tenggelam. Banyak pekerja terpaksa menghabiskan malam di kedai karaoke atau minimarket sekitar Stasiun Nagoya karena seluruh akses angkutan umum menuju area pinggiran kota terputus total.
Ancaman Longsor Mengintai Hingga Kamis
JMA memperingatkan bahwa ancaman cuaca buruk masih jauh dari kata usai. Front cuaca aktif yang membentang di sepanjang pesisir Pasifik, ditambah pergerakan depresi tropis sisa Badai Krovanh dari arah selatan Shikoku, diproyeksikan akan terus menyuplai udara basah bertekanan tinggi hingga Kamis.
JMA memprediksi akumulasi curah hujan hingga 200 mm bakal menyiram wilayah Tokai dan Kinki. Sementara itu, wilayah Kanto-Koshin—termasuk ibu kota Tokyo—diperkirakan bakal diguyur hujan hingga 120 mm.
Masyarakat diimbau untuk tetap dalam kondisi siaga satu terhadap potensi bencana susulan. Pasalnya, struktur tanah di wilayah Jepang tengah saat ini sudah sangat jenuh air dan sangat rentan memicu longsor skala besar walau hanya disiram hujan berintensitas sedang.