JAKARTA – Influenza bukan hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat menginfeksi anak-anak. Meski sebagian besar kasus dapat pulih, anak-anak, terutama usia sangat muda, memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza.
Pakar dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K), menjelaskan influenza tipe A maupun B dapat menyerang siapa saja. Namun, risiko mengalami gejala berat lebih tinggi pada anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta atau komorbid.
Sekitar 5 Persen Anak dengan Influenza Dirawat
Menurut Anggraini, sekitar 5 persen anak yang mengalami influenza dapat membutuhkan perawatan di rumah sakit. Dari kelompok anak yang menjalani rawat inap tersebut, sekitar 80 persen berusia di bawah 2 tahun. Bahkan, sekitar setengahnya merupakan bayi berusia kurang dari 6 bulan.
Kondisi tersebut membuat anak usia sangat muda menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika mengalami influenza. Risiko juga dapat meningkat pada balita dengan penyakit penyerta, terutama gangguan neurologis yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Lingkungan dengan kepadatan tinggi, seperti daycare, juga dapat meningkatkan peluang anak terpapar virus influenza karena terjadi kontak dekat dengan banyak orang.
Sistem Kekebalan Anak Masih Berkembang
Salah satu faktor yang membuat anak lebih rentan terhadap influenza adalah sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang. Anak-anak juga belum memiliki pengalaman imunologis sebanyak orang dewasa dalam menghadapi berbagai virus.
CDC mencatat anak berusia di bawah 5 tahun, terutama yang berusia kurang dari 2 tahun, memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat influenza. Risiko juga meningkat pada anak dengan kondisi medis tertentu, seperti asma dan diabetes.
Anak usia 0-17 tahun juga disebut sekitar dua kali lebih mungkin mengalami infeksi influenza bergejala dibandingkan orang dewasa. Selain itu, anak yang telah terinfeksi dapat menyebarkan virus dalam waktu lebih lama sehingga berpotensi menularkan kepada orang lain.
Influenza Bisa Menyebabkan Komplikasi
Influenza tidak selalu hanya menyebabkan demam dan batuk. CDC mencatat sejumlah komplikasi dapat terjadi pada anak, termasuk infeksi telinga dan sinus, pneumonia, dehidrasi, serta memburuknya penyakit kronis seperti asma.
Dalam kondisi tertentu, influenza juga dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius seperti peradangan otak atau gangguan fungsi otak.
Data CDC menunjukkan perkiraan jumlah anak di bawah 5 tahun yang dirawat akibat influenza di Amerika Serikat berkisar antara 6.000 hingga 25.000 kasus per tahun. Angka tersebut berasal dari musim influenza 2010-2011 hingga 2022-2023, dengan pengecualian musim 2020-2021.
Waspadai Gejala yang Memburuk
Orang tua perlu memperhatikan kondisi anak ketika mengalami influenza. CDC menyebut beberapa tanda yang membutuhkan perhatian medis segera, seperti napas cepat atau kesulitan bernapas, bibir atau wajah membiru, dada tertarik saat bernapas, nyeri dada, dehidrasi, kejang, serta anak tidak responsif atau sulit berinteraksi ketika terjaga.
Demam atau batuk yang sempat membaik tetapi kemudian kembali atau semakin parah juga perlu diwaspadai.
Dengan mengenali kelompok berisiko dan tanda komplikasi sejak awal, orang tua dapat lebih cepat mengambil langkah ketika kondisi anak memburuk. Influenza pada anak memang sering dapat sembuh, tetapi usia yang sangat muda dan kondisi kesehatan tertentu dapat meningkatkan risiko penyakit yang lebih serius.