KEPRI– Sejumlah sekolah di Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, menerapkan pengaturan jadwal khusus dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan melalui koordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar pembagian makanan kepada siswa berjalan tertib tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM).
Penyesuaian jadwal tersebut membuat pelaksanaan MBG di sekolah dapat berlangsung seiring dengan aktivitas pembelajaran. Mulai dari waktu pengantaran, pembagian makanan hingga penyantapan, seluruh proses diatur berdasarkan kesepakatan antara pihak sekolah dan SPPG.
Wali Kelas 3 SDN 016 Bintan Timur, Mastura, mengatakan, koordinasi dengan SPPG Kijang 3 Bintan Timur membantu sekolah mengatur waktu penerimaan dan pembagian makanan kepada siswa. Dengan pengaturan tersebut, kegiatan belajar di kelas tetap dapat berjalan sesuai jadwal.
Sekolah yang berlokasi di Kampung Sei Enam Darat, Kelurahan Sungai Enam, Kecamatan Bintan Timur, itu menerima kiriman makanan dari SPPG pada pukul 08.30 WIB. Sementara waktu makan bersama dijadwalkan saat jam istirahat, yakni pukul 09.30 WIB.
Pengaturan ini menjadi bagian dari penyesuaian yang dilakukan sekolah sejak program MBG mulai berjalan pada Februari 2026. Mastura mengungkapkan, pelaksanaan program kini semakin tertata setelah pihak sekolah dan SPPG menyepakati alur distribusi makanan.
“Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ujar Mastura saat ditemui di ruang kerjanya.
Selain pengaturan waktu, sekolah juga memastikan jumlah makanan yang diterima sesuai dengan data penerima manfaat. Tim penanggung jawab MBG sekaligus staf Tata Usaha SDN 016 Bintan Timur, Fitri Aini, menyebutkan, setiap hari sekolah menerima 118 porsi makanan.
Jumlah tersebut diperuntukkan bagi 108 siswa serta 10 guru dan tenaga kebersihan. Setiap pagi, Fitri melakukan penghitungan dan pemeriksaan terhadap makanan yang datang sebelum dibagikan kepada perwakilan siswa dari masing-masing kelas.
Dari sisi menu, makanan yang disajikan cukup beragam. Siswa mendapatkan berbagai sumber protein, seperti ayam, telur, ikan, dan sesekali udang. Hidangan tersebut juga dilengkapi sayuran, buah-buahan, serta susu.
Setelah kegiatan makan bersama selesai, para siswa mengumpulkan kembali wadah ompreng untuk selanjutnya diangkut petugas SPPG menggunakan mobil boks. Seluruh rangkaian tersebut dilakukan secara teratur sebagai bagian dari mekanisme pelayanan MBG di sekolah.
Penerapan pengaturan serupa juga terlihat di SMPN 1 Bintan Timur. Kepala SMPN 1 Bintan Timur, Sri Lestari, mengatakan, program MBG di sekolahnya telah menjangkau 788 penerima manfaat sejak awal Januari 2026.
Penerima manfaat tersebut terdiri atas siswa, guru, dan staf tata usaha yang tersebar dalam 24 rombongan belajar. Dengan jumlah penerima yang cukup besar, pihak sekolah bersama SPPG menyusun alur distribusi agar pelaksanaan program dapat menyesuaikan dengan aktivitas harian siswa.
Di sekolah tersebut, makanan diantarkan petugas SPPG pada pukul 11.00 WIB. Selanjutnya, perwakilan siswa mengambil makanan di titik kumpul dengan pengawasan tim penanggung jawab sekolah.
Para siswa kemudian menyantap makanan bersama di kelas mulai pukul 12.00 WIB. Waktu makan berlangsung sekitar 10 menit. Setelah itu, wadah ompreng dikumpulkan dan disusun rapi untuk dijemput kembali oleh petugas SPPG pada pukul 13.00 WIB.
“Jadi sistem yang kami sepakati itu tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah,” tegas Sri.
Menurut dia, kesepakatan mengenai jadwal dan mekanisme pembagian makanan membantu sekolah menjalankan program MBG secara teratur. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan gizi siswa dapat berjalan beriringan dengan kegiatan pendidikan.
Sri juga berharap kehadiran menu makanan bergizi di sekolah dapat memberikan manfaat lebih luas bagi kebiasaan makan anak. Ia menginginkan variasi makanan yang diberikan melalui program MBG bisa menjadi inspirasi bagi orang tua untuk menerapkan pola makan sehat dan seimbang di rumah.
Melalui koordinasi antara sekolah dan SPPG, pelaksanaan program MBG di Bintan Timur terus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing jenjang pendidikan. Pengaturan tersebut memungkinkan siswa mendapatkan makanan bergizi sekaligus tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar sesuai jadwal.