FRANKFURT – Aksi unjuk rasa massal yang dipelopori kaum muda dari kelompok Gen Z regelt di sejumlah kota besar Jerman berujung ricuh pada Sabtu malam. Gelombang demonstrasi yang awalnya berlangsung damai mendadak diwarnai aksi kekerasan, penjarahan toko, hingga serangan terhadap petugas layanan darurat.
Insiden kerusuhan meluas di beberapa kota utama seperti Frankfurt, Berlin, Cologne, dan Hamburg. Kepolisian terpaksa memobilisasi meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa bertopeng yang melemparkan bom molotov, kembang api, batu, botol, hingga sepeda ke arah petugas.
Kepala Kepolisian Cologne, Johannes Hermanns, mengungkapkan keprihatinannya atas penyusupan kelompok ekstremis dalam aksi tersebut.
“Sangat prihatin karena aksi damai yang dilakukan oleh kaum muda demi masa depan mereka justru disusupi oleh kelompok ekstremis yang hanya berniat melakukan kekerasan,” ungkap Johannes Hermanns, dikutip Minggu (1/11/2026).
Di Frankfurt, massa merusak sejumlah fasilitas publik dan menjarah toko perbelanjaan, termasuk toko senjata. Pihak berwenang berhasil mengamankan dua pucuk senjata api dari seorang tersangka yang ditangkap di lokasi.
Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Roman Poseck, menegaskan bahwa aksi massa tersebut telah diprovokasi oleh kelompok radikal.
“Sekitar 100 ekstremis sayap kiri yang teridentifikasi dengan jelas telah menyusup ke dalam aksi protes di kota tersebut. Kita semua masih ingat kejadian di Prancis-penjarahan, pembakaran rumah, pembakaran kendaraan polisi, serta serangan terhadap petugas kepolisian. Prancis sama sekali tidak boleh dijadikan contoh dalam hal ini,” tegas Poseck.
Sebelum disusupi kerusuhan, ribuan demonstran turun ke jalan untuk menyuarakan protes atas minimnya anggaran pendidikan, tingginya biaya hidup, pemotongan anggaran publik, serta penolakan terhadap rencana wajib militer.
Juru bicara Gen Z regelt, Lina Friedrich, menegaskan bahwa fokus utama gerakan mereka adalah memperjuangkan hak-hak sosial kaum muda secara damai.
“Hal terpenting bagi kami adalah dukungan yang lebih baik untuk sistem kesehatan dan pendidikan. Kami menentang wajib militer dan mendukung pembagian beban yang lebih adil,” jelas Lina Friedrich.
Buntut dari kerusuhan di Jerman ini, kepolisian di berbagai kota menahan ratusan pengunjuk rasa. Di Berlin, sedikitnya 27 petugas polisi dilaporkan mengalami luka-luka dan 56 orang ditahan. Sementara di Hamburg, otoritas setempat mengamankan sekitar 120 orang.
Aksi serupa juga terjadi secara bersamaan di Prancis dengan melibat kan lebih dari 320.000 pengunjuk rasa yang berujung pada penangkapan lebih dari 500 orang di Toulouse, Lyon, dan Marseille.