JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membatalkan rencana pengadaan kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang. Perusahaan kini memilih mempercepat penyediaan armada baru untuk memenuhi kebutuhan transportasi masyarakat, khususnya di wilayah Jabodetabek.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan keputusan tersebut setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Bobby menegaskan bahwa KAI akan mengutamakan penggunaan kereta baru dibandingkan mendatangkan armada bekas dari luar negeri.
“Kita gak impor bekas, pokoknya buat rakyat harus yang baru,” ujar Bobby kepada wartawan.
KAI Butuh 23 Trainset Baru, Delapan Di antaranya Mendesak
Bobby menjelaskan, KAI membutuhkan total 23 trainset baru untuk mendukung operasional KRL. Dari jumlah tersebut, delapan rangkaian menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi.
Pengadaan seluruh rangkaian tersebut akan dipercepat dalam waktu dua hingga tiga tahun. Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga kapasitas angkut seiring meningkatnya jumlah pengguna KRL.
“Jadi ada 8 yang urgent, kemudian total 23 train set. Kita akan percepat 2-3 tahun, 23 train set baru,” kata Bobby.
Dengan keputusan tersebut, KAI mengubah strategi pemenuhan armada yang sebelumnya sempat mengandalkan opsi pembelian KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara.
Produksi INKA Jadi Salah Satu Prioritas
Dalam rencana pengadaan terbaru, KAI akan melibatkan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA sebagai salah satu penyedia rangkaian kereta baru.
Bobby menyebut dukungan terhadap industri perkeretaapian nasional menjadi bagian dari kebijakan pengadaan armada. Meski demikian, KAI juga membuka peluang kerja sama dengan pihak luar negeri untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Salah satunya nanti sebagian ke INKA. Wajib mendukung industri dalam negeri,” ujar Bobby.
Ia juga menjelaskan bahwa pembelian kereta dari luar negeri tetap memungkinkan, tetapi harus melibatkan kerja sama dengan industri dalam negeri.
“Luar negeri harus kerja sama dalam negeri,” ucapnya.
Skema tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan armada sekaligus mendorong peningkatan kemampuan produksi industri perkeretaapian nasional.
Kebutuhan Armada KRL Terus Meningkat
Percepatan pengadaan kereta baru dilakukan di tengah meningkatnya jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Sebelumnya, KAI mencatat pertumbuhan penumpang sebesar 11,3 persen pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin juga pernah menyampaikan bahwa rata-rata pengguna KRL telah mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang masih berada di bawah satu juta penumpang harian.
Di sisi lain, KAI menghadapi kebutuhan peremajaan armada karena sebagian kereta yang beroperasi telah berusia lebih dari 40 tahun.
Sebelumnya, KAI mengusulkan pengadaan 23 trainset bekas dari Jepang sebagai solusi sementara. Rencana tersebut terdiri atas tujuh rangkaian dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 rangkaian dengan formasi delapan kereta atau SF8.
Namun, melalui keputusan terbaru, KAI memilih mengarahkan pengadaan pada kereta baru dengan target percepatan selama dua hingga tiga tahun.
Kebijakan ini menjadi langkah perusahaan untuk memenuhi kebutuhan perjalanan masyarakat sekaligus memperkuat keterlibatan industri dalam negeri dalam penyediaan sarana transportasi publik.