TEL AVIV, ISRAEL – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan sikap kerasnya dengan menolak gencatan senjata atau pertukaran tahanan dengan Hamas, meskipun kelompok tersebut berencana membebaskan sandera berkewarganegaraan ganda AS-Israel, Edan Alexander.
Langkah Hamas dan Harapan Pembebasan Sandera
Hamas dikabarkan akan membebaskan Edan Alexander, sandera AS-Israel terakhir yang masih hidup, pada Senin, 12 Mei 2025. Ini merupakan bagian dari negosiasi yang melibatkan Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar.
Menurut sumber yang mengetahui situasi, langkah ini merupakan “isyarat niat baik” kepada Presiden AS Donald Trump. Pembebasan Alexander diharapkan dapat membuka jalan bagi negosiasi lebih lanjut untuk membebaskan 59 sandera lainnya yang masih ditahan di Gaza.
Namun, Netanyahu menegaskan bahwa Israel hanya akan mengizinkan perjalanan aman bagi Alexander, sementara pasukannya tetap bersiap memperluas operasi militer di wilayah tersebut.
“Negosiasi akan terus berlanjut di bawah tekanan, selama persiapan untuk mengintensifkan pertempuran,” demikian pernyataan resmi dari kantor Netanyahu, seperti dilansir Channel NewsAsia.
Tekanan Politik dan Strategi Militer Israel
Keputusan Netanyahu tidak lepas dari dinamika politik dalam negeri dan tekanan dari koalisi sayap kanan di kabinetnya.
Kelompok ekstremis di pemerintahan Israel mendesak agar perang di Gaza dilanjutkan hingga Hamas benar-benar dihancurkan.
Pekan lalu, Netanyahu bahkan mengumumkan rencana untuk memperluas operasi militer di Gaza, meskipun pelaksanaannya ditunda hingga Trump menyelesaikan kunjungan kenegaraannya ke negara-negara Teluk.
Sementara itu, keluarga sandera dan para pendukung mereka di Israel terus mendesak pemerintah agar segera mencapai kesepakatan demi membebaskan para tawanan.
Tekanan ini berbenturan dengan ambisi militer Netanyahu, yang tampaknya lebih memprioritaskan dominasi keamanan di Gaza ketimbang negosiasi damai.
Respons Dunia dan Dampak Kemanusiaan
Langkah Hamas untuk membebaskan Alexander mendapat sambutan positif dari mediator seperti Qatar dan Mesir, yang menyebutnya sebagai “langkah menggembirakan” menuju perundingan gencatan senjata.
Namun, sikap keras Israel memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza. Sejak Maret 2025, Israel telah memperketat blokade, memblokir bantuan kemanusiaan, dan menyebabkan kelaparan bagi sekitar dua juta penduduk Palestina di wilayah tersebut.
Presiden Trump, yang dikenal sebagai sekutu dekat Israel, juga turut memengaruhi dinamika ini. Pernyataannya yang mendesak pembebasan sandera sebelum kunjungannya ke Teluk menunjukkan adanya tekanan diplomatik dari AS, meskipun Netanyahu tampaknya tetap pada pendiriannya.
Mengapa Netanyahu Bertahan pada Sikap Keras?
Analis politik menduga bahwa keputusan Netanyahu dipengaruhi oleh kombinasi strategi militer dan pertimbangan politik domestik.
Dengan mempertahankan tekanan militer, Israel berharap dapat memaksa Hamas membuat konsesi yang lebih besar. Namun, pendekatan ini juga berisiko memperpanjang penderitaan warga sipil di Gaza serta meningkatkan ketegangan dengan komunitas internasional.
Sementara itu, publik Israel terpecah. Sebagian mendukung pendekatan keras Netanyahu, sementara lainnya, terutama keluarga sandera, menyerukan solusi diplomatik yang lebih cepat.
“Kami hanya ingin orang-orang yang kami cintai kembali,” ujar seorang perwakilan keluarga sandera dalam unjuk rasa baru-baru ini di Tel Aviv.