JAKARTA – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menjadi sorotan menjelang penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Washington dan Teheran. Di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik berkepanjangan dengan Iran, muncul laporan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump menolak permintaan Israel untuk mengakses isi dokumen kesepakatan tersebut sebelum diumumkan secara resmi.
Informasi itu pertama kali diungkap sejumlah sumber Israel yang mengetahui jalannya komunikasi antara kedua negara. Menurut mereka, pemerintah Israel telah meminta kesempatan untuk meninjau isi MoU yang akan ditandatangani AS dan Iran, namun permintaan tersebut tidak dikabulkan oleh Washington.
Laporan tersebut memunculkan tanda tanya besar mengingat AS dan Israel selama ini dikenal sebagai sekutu strategis yang hampir selalu berbagi informasi terkait isu keamanan kawasan Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan program nuklir Iran.
Salah satu sumber menyebut keputusan itu didorong kekhawatiran Gedung Putih bahwa isi kesepakatan dapat bocor ke publik sebelum waktu yang telah ditentukan.
Menurut sumber tersebut, Trump disebut tidak ingin risiko kebocoran informasi mengganggu proses diplomasi yang sedang berlangsung maupun momentum penandatanganan kesepakatan yang telah dinegosiasikan dalam beberapa waktu terakhir.
Laporan serupa juga muncul dari media Israel, i24 News. Koresponden media tersebut mengutip seorang pejabat AS yang mengakui adanya permintaan dari Israel untuk melihat dokumen MoU.
“Saya bisa mengonfirmasi secara resmi bahwa Israel meminta akses ke dokumen MoU Iran dan ditolak,” tulis koresponden i24 News melalui akun media sosial X.
Ia menilai langkah tersebut merupakan perkembangan yang tidak lazim dalam hubungan kedua negara.
“Itu adalah perkembangan yang luar biasa dan sangat tidak biasa antara sekutu dekat dalam isu yang sangat penting bagi keamanan nasional,” ujarnya.
Jika laporan tersebut benar, maka situasi ini dapat menjadi indikasi adanya kehati-hatian ekstra dari Washington dalam mengelola proses perdamaian dengan Iran. Langkah itu juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran di Tel Aviv yang selama bertahun-tahun memandang program nuklir Iran sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Namun demikian, pemerintah AS membantah adanya ketegangan dalam koordinasi dengan Israel. Seorang pejabat AS menegaskan laporan yang menyebut Washington menutup akses informasi kepada Tel Aviv tidak sepenuhnya akurat.
“Amerika Serikat tetap berkoordinasi erat dengan mitra regional kami, termasuk Israel, sepanjang negosiasi,” kata pejabat tersebut.
Pernyataan itu menegaskan bahwa komunikasi antara kedua negara tetap berjalan, meskipun tidak semua detail negosiasi dibuka kepada pihak luar sebelum kesepakatan resmi diumumkan.
Hingga kini, isi lengkap nota kesepahaman AS-Iran masih dirahasiakan. Pemerintah kedua negara belum mempublikasikan dokumen final yang akan menjadi dasar kerja sama dan proses negosiasi lanjutan pascakonflik.
Sejumlah laporan menyebut MoU tersebut akan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni. Kesepakatan itu disebut-sebut memuat sejumlah poin strategis yang dapat mengubah dinamika geopolitik Timur Tengah.
Beberapa poin yang beredar antara lain pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi dunia, pencabutan sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran, hingga pengaturan masa depan program nuklir Teheran.
Selain itu, dokumen tersebut diperkirakan akan menjadi fondasi bagi perundingan lanjutan yang bertujuan mengakhiri ketegangan dan konflik antara kedua negara secara permanen.
Para pengamat menilai keberhasilan MoU ini tidak hanya akan berdampak pada hubungan AS dan Iran, tetapi juga terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, keamanan jalur energi global, serta hubungan Washington dengan sekutu-sekutunya di kawasan.
Di tengah antisipasi publik internasional terhadap isi kesepakatan tersebut, sikap AS yang diduga membatasi akses Israel justru menjadi isu tersendiri. Perkembangan itu memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana Washington bersedia menjaga kerahasiaan proses perdamaian, bahkan dari mitra terdekatnya sekalipun.
Kini perhatian dunia tertuju pada Swiss, tempat dokumen itu dijadwalkan ditandatangani. Jika seluruh agenda berjalan sesuai rencana, MoU AS-Iran berpotensi menjadi salah satu kesepakatan diplomatik paling penting di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus membuka babak baru hubungan antara Washington dan Teheran setelah periode panjang konfrontasi dan ketegangan.