JAKARTA — Banjir di Kota Padang, Sumatera Barat, memaksa ratusan warga mengungsi, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, meluas hingga 10 distrik. Di saat bersamaan, banjir dan tanah longsor juga melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, dampak bencana di sejumlah daerah tersebut masih dalam penanganan berdasarkan pemutakhiran data hingga Minggu (11/10/2026) pukul 07.00 WIB. Penanganan difokuskan pada evakuasi warga, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pemadaman api, serta pemulihan akses yang terdampak.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan penanganan banjir, tanah longsor, dan karhutla di sejumlah wilayah tersebut.
“Dalam periode ini ada tiga kejadian yang kami pantau, yakni banjir dan longsor di Aceh, karhutla di Merauke, serta banjir di Kota Padang yang dampaknya masih berlangsung,” ujar Berton.
Di antara kejadian tersebut, banjir di Kota Padang masih berdampak terhadap ratusan keluarga. Sementara itu, kebakaran lahan di Merauke terus ditangani petugas meski sejumlah titik api telah berhasil dipadamkan.
Banjir Padang Berdampak pada 498 Jiwa
Banjir yang melanda Kota Padang pada Sabtu (10/10/2026) dipicu hujan berintensitas tinggi. Luapan air merendam tiga kecamatan, yakni Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Sumatera Barat per Minggu pukul 03.34 WIB, genangan masih ditemukan di enam kelurahan, yaitu Kuranji, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, Lubuk Minturun, Tabiang Banda Gadang, dan Gurun Laweh.
Bencana tersebut berdampak terhadap sekitar 225 kepala keluarga atau 498 jiwa. Adapun jumlah warga yang mengungsi di Kelurahan Kuranji tercatat sebanyak 672 jiwa.
Para pengungsi ditempatkan di sejumlah lokasi. Sebanyak 367 jiwa berada di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga, 250 jiwa di Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah, serta 55 jiwa di kawasan Warung Jembatan Guo.
Kerusakan juga terjadi pada permukiman warga. Laporan sementara mencatat satu rumah mengalami rusak berat, empat rumah rusak sedang, dan sekitar 120 rumah terendam banjir.
Selain merendam permukiman, banjir mengganggu akses transportasi warga. Jalan di sekitar kawasan PDAM daerah Guo, Kecamatan Kuranji, dilaporkan terputus sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat dan penanganan di lapangan.
Tim SAR gabungan yang melibatkan pemerintah daerah, Basarnas Padang, TNI, Polri, BPBD, Dinas Sosial, relawan, dan masyarakat telah mengevakuasi sedikitnya 238 jiwa.
Bantuan logistik juga disalurkan kepada warga terdampak. Bantuan tersebut meliputi makanan siap saji, selimut, mi instan, kasur, dan paket kebutuhan keluarga atau *family kit*, terutama untuk pengungsi di wilayah Koto Tangah dan Kuranji.
BNPB juga menyoroti perlunya perbaikan tanggul yang jebol di aliran sungai Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, sebagai bagian dari upaya penanganan untuk mengurangi risiko banjir berulang.
Karhutla Merauke Meluas ke 10 Distrik
Di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, kebakaran hutan dan lahan yang mulai terpantau sejak Jumat (9/10/2026) pukul 18.00 WIT meluas ke 10 distrik.
Wilayah yang terdampak meliputi Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel.
Berdasarkan pendataan sementara, kebakaran di sembilan titik telah menghanguskan lahan seluas sekitar 63 hektare. Petugas gabungan dari BPBD Provinsi Papua Selatan, BPBD Kabupaten Merauke, pemadam kebakaran, dan Satpol PP melakukan pemadaman menggunakan armada darat.
Sejumlah titik api di Kampung Harapan Makmur, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, dan Desa Bumun dilaporkan telah berhasil dipadamkan. Petugas kemudian melakukan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya kembali api.
Sementara itu, pemadaman masih berlangsung di Desa Set Agung. Penanganan kebakaran di Kampung Wanam dan Kampung Salam Epe juga mendapat bantuan dari pihak korporasi.
Berton menegaskan, data luas lahan yang terbakar masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring perkembangan pendataan di lapangan.
“Seluruh data luasan ini masih bersifat sementara dan bisa berubah mengikuti hasil pemutakhiran di lapangan,” kata Berton.
Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada laporan korban jiwa akibat karhutla di Merauke. Namun, petugas masih menghadapi kendala untuk menjangkau sejumlah wilayah terpencil, termasuk Kampung Kondo, Kampung Wakai, dan Kampung Ihalik, karena jarak serta kondisi medan yang sulit.
Banjir dan Longsor Ganggu Akses Jalan di Aceh
Bencana hidrometeorologi juga melanda sejumlah wilayah di Aceh. Hujan lebat pada Jumat (9/10/2026) memicu banjir dan tanah longsor di Kecamatan Blangkejeren dan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues.
Material longsor sempat menutup seluruh akses Jalan Nasional Blangkejeren–Takengon. Tim gabungan dari unsur PUPR dan BPBD kemudian melakukan pembersihan menggunakan alat berat agar jalur tersebut dapat kembali dilalui.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara. Hujan deras yang berlangsung dalam waktu lama memicu banjir dan longsor di Kecamatan Ketambe, Lawe Bulan, dan Babussalam.
Dampak bencana di wilayah tersebut meliputi tertimbunnya ruas jalan Kutacane–Blangkejeren oleh material tanah, jebolnya satu unit tanggul, serta hanyutnya bangunan pengambilan air bersih milik PDAM Tirta Agara akibat derasnya arus.
Meski genangan air telah surut, penanganan belum sepenuhnya selesai. Petugas masih melakukan pembersihan material longsor yang mengganggu akses jalan dan aktivitas masyarakat.
BNPB Minta Warga Waspadai Banjir dan Longsor
Menyikapi rangkaian bencana tersebut, BNPB meminta pemerintah daerah terus mengoptimalkan penanganan darurat dan memastikan kebutuhan dasar warga di pengungsian terpenuhi.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
“Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan tanah longsor, terutama saat hujan deras berlangsung lama. Segera menuju tempat yang lebih aman jika kondisi mengancam keselamatan,” ujar Berton.
Selain itu, masyarakat di wilayah rawan karhutla diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melaporkan kepada aparat berwenang apabila menemukan titik api baru agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.