JAKARTA – Dana yang akan dikelola badan pengelola investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tergolong sangat besar sehingga asas kehati-hatian menjadi faktor penting.
Setiap tahunnya Danantara yang barus diluncurkan Presiden Prabowo Subianto, 24 Februari 2025 lalu diperkirakan akan menerima suntikan dana hingga USD 20 miliar.
Hal tersebut seperti disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, dalam acara Economic Outlook 2025 di The Westin Hotel, Jakarta Selatan, Rabu (26/02/2025).
Rosan Roeslani mengungkapkan rencana besar investasi lembaga ini, yang diprediksi akan menerima suntikan dana hingga USD 20 miliar per tahun.
Dana tersebut berasal dari dividen atau keuntungan perusahaan pelat merah yang dikelola negara, dengan fokus pada sektor strategis seperti hilirisasi, energi baru terbarukan, ketahanan pangan, dan ketahanan energi.
“Kita bisa menginvestasikan ke bidang-bidang tentunya hilirisasi, ke bidang-bidang energi baru terbarukan, ketahanan pangan, ketahanan energi,” ujar Rosan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa proyek yang didanai Danantara harus memiliki dampak besar terhadap perekonomian nasional, termasuk penciptaan lapangan kerja yang signifikan.
Rosan juga menegaskan bahwa setiap keputusan investasi akan melalui proses seleksi ketat dengan sistem pengawasan berlapis guna memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Dalam upaya menjaga kualitas investasi, Rosan menjelaskan bahwa keputusan tidak hanya bergantung pada dirinya atau direksi semata, melainkan juga melibatkan komite investasi serta pengawas internal.
“Dana ini (USD 20 miliar) kita investasikan dengan proses yang panjang, bukan ibaratnya hanya keputusan dari saya saja, atau dari board of director saja, itu enggak bisa,” jelasnya.
Danantara menerapkan sistem pengawasan berjenjang, di mana keputusan investasi juga harus mendapatkan persetujuan dari tingkat eksekutif hingga dewan pengawas.
Dengan mekanisme ini, Rosan optimistis bahwa prinsip kehati-hatian tetap diutamakan tanpa mengorbankan efisiensi dan produktivitas.
“Kita juga punya komite investasi. Komite Investasi juga layernya bukan hanya di level CEO aja, COO dan CIO aja.”
“Namun di level pengawas juga ada, jadi ini memang kita buat berlapis. Untuk apa? Untuk azas kehati-hatian yang kita selalu utamakan, tapi dengan tidak mengurangi dari segi efisiensi dan juga produktivitas,” tutup Rosan.***