KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC) baru-baru ini mengungkapkan bahwa Mantan Perdana Menteri, Ismail Sabri Yaakob, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang tengah diselidiki. Pemanggilan terhadap Ismail Sabri untuk memberikan keterangan dijadwalkan pada Rabu, 5 Maret 2025.
Ketua MACC, Azam Baki, mengonfirmasi bahwa pemanggilan ini memang akan dilakukan. Namun, ia juga menyatakan bahwa segala sesuatunya akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan Ismail Sabri. Menurut Azam, pemanggilan ini berkaitan dengan penyelidikan lebih lanjut mengenai laporan harta kekayaan Ismail Sabri dan beberapa kasus lainnya yang tengah dalam proses pemeriksaan oleh pihak MACC.
“Saya bisa menyampaikan bahwa beliau (Ismail Sabri) sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Pertama, kami menyelidiki laporan harta kekayaan yang wajib dilaporkan sesuai dengan Pasal 36 UU Anti-Korupsi,” ujar Azam, seperti dikutip dari The Star pada Senin, 3 Maret 2025.
Selain itu, Azam mengungkapkan bahwa pihaknya telah menemukan sejumlah uang yang diduga terkait dengan tindakan pidana yang melibatkan mantan perdana menteri tersebut.
“Kami membutuhkan keterangannya mengenai temuan uang yang terkait dengan kasus ini,” tambahnya.
Sebelumnya, MACC telah menyatakan niatnya untuk memanggil Ismail Sabri sebagai bagian dari penyelidikan terhadap beberapa kasus korupsi dan pencucian uang. Sumber yang dekat dengan proses ini menyebutkan bahwa penetapan Ismail Sabri sebagai tersangka didasarkan pada keterangan yang diberikan oleh seorang anggota parlemen dalam beberapa hari terakhir.
Informasi yang diterima MACC mengindikasikan adanya bukti baru terkait keterlibatan Ismail Sabri dalam beberapa kasus korupsi. “Ismail Sabri sudah diminta untuk memberikan keterangan selama sekitar lima jam untuk membantu penyelidikan,” ujar pihak MACC dalam pernyataan resmi.
Penetapan tersangka terhadap Ismail Sabri datang setelah penahanan empat mantan pejabat, termasuk dua orang bergelar Datuk yang masih memiliki hubungan dekat dengan dirinya. Mereka ditangkap pada 21 Februari 2025 dan kini sedang diperiksa terkait dugaan tindak pidana korupsi.
Kedepannya, penyelidikan ini diperkirakan akan terus berkembang, dengan sejumlah pihak yang kini menjadi perhatian utama dalam upaya memberantas korupsi di Malaysia.